Gitarku, Kekasihku

Teruntuk kekasih terdiamku,

Aku lupa kapan tepatnya kita dipertemukan. Waktu itu, yang ada di pikiranku, aku ingin sekali bisa memilikimu. Lalu memainkanmu kapanpun aku mau. Walau kau kelelahan sekalipun, aku tak peduli. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain, yang bisa menghibur banyak orang lewat iringan indahnya, tentu saja melalui bantuanmu.

Terkadang juga, aku suka ditertawakan karena suaraku ini yang jauh sekali dari kata merdu. Tak ada yang bisa kuperbuat. Aku hanya bisa tertawa menertawakan kekuranganku sendiri. Ah, suaraku ini memang tak merdu, tapi suara hati ini cukup merdu untuk didengarkan. Sayangnya saja mereka tak mampu mendengarnya.

Bersama Mengiringi Malam.
Bersama Mengiringi Malam.

Badanmu itu, duh, sungguh aduhai. Ketika gelisah datang, pasti kau selalu ada untuk kupeluk erat-erat. Ada damai yang kurasakan saat itu. Entah perasaan apa ini. Yang pasti, aku tenang. Pelukmu itu menenangkan.

Ada yang aneh, yaitu bentuk lehermu, yang lebih panjang dari leher teman-temanku. Kau selalu saja merelakan lehermu dijamahi oleh setiap jari-jemari. Tak pernah kah sekalipun kau merasa risih? Tangan-tangan kotor ini mencekikmu, tapi kau hanya diam saja. Kau biarkan penderitaanmu ini hanya untuk kemunculan beberapa nada indah. Kalau kau tanyakan padaku, aku sudah pasti suka lantunannya.

Kepalamu unik. Rambutmu pun tak pernah lebih dari enam helai, tapi ukurannya memanjang sampai ke badanmu. Juga, terikat dengan kuat. Pernah waktu itu tak sengaja kuputuskan, rambut itupun tumbuh lagi, kali ini dengan bantuan sentuhan ajaibku.

Ada rasa nyaman ketika aku sedang berada di dekatmu. Ada lagu-lagu cinta kesukaan kita yang selalu kita mainkan bersama. Kita bermain bersama, tertawa bersama. Sungguh, saat-saat ini tak akan bisa terlupa.

Pernah waktu itu, kau kuajak naik ke atas panggung. Kau menolak, tapi sebenarnya kau mau, tapi kau malu. “Kemesraan berdua bukanlah untuk dipamer-pamerkan. Aku benci dengan hal itu. Biarlah momen-monen indah ini hanya kita berdua saja yang merasakan,” katanya. “Tapi, kan. Coba kau ingat-ingat tujuan kau diciptakan. Kau diciptakan untuk menghibur banyak orang. Merubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Toh, itu bukan hal buruk, bukan? Itu hal yang mulia,” kataku mencoba menenangkan. Setelah sempat terdiam sejenak, akhirnya ia pun luluh. Ia menatapku dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.

Di atas panggung itu, kita menunjukkan kemampuan terbaik yang kita miliki. Kita bernyanyi bersama dengan seluruh penonton. Semua orang berdansa karena penampilan kita. Aku terharu. Kita pun terhanyut dalam sorak sorai penonton.

Aku senang memilikinya. Aku bangga. Duniaku yang sekarang menjadi penuh dengan nada-nada indah. Aku juga mendapatkan banyak pelajaran darinya.

Gitarku, tetaplah dalam dekapanku. 🙂

dari aku, si penikmat tubuh indahmu

The following two tabs change content below.

mahisaajy

PMG Ahli Pertama, Bidang Manajemen Database at BMKG
Seorang pemuda luar biasa yang mempunyai hobi menulis, membaca, dan bermusik. Tertarik dengan bidang ilmu komputer untuk memecahkan beberapa persoalan. Co-Founder Triglav ID dan Co-Founder METLIGO. Sejak tahun 2018 bekerja di BMKG di bagian Pusat Database.

Published by mahisaajy

Seorang pemuda luar biasa yang mempunyai hobi menulis, membaca, dan bermusik. Tertarik dengan bidang ilmu komputer untuk memecahkan beberapa persoalan. Co-Founder Triglav ID dan Co-Founder METLIGO. Sejak tahun 2018 bekerja di BMKG di bagian Pusat Database.

Join the Conversation

2 Comments

  1. alangkah lebih bagus kalau judulnya tidak langsung ditulis gitarku, jadi endingnya bisa kejutan, “eh ternyata ngomongin gitar toh?” gitu. tetap semangatt yaaa <3

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: