Cinta Setangkai Mawar

Teruntuk setangkai bunga mawar,

Kemarin, aku melihatmu sedang diperbincangkan di salah satu halaman buku yang kubaca. Aku tulis saja di surat ini supaya kau bisa merasakannya. Intinya, cintamu dipertanyakan. Begini katanya:

Cinta setangkai mawar. Habis dicium, habis disentuh, habis dipreteli satu demi satu kelopaknya, habis pula manfaatnya.

Kenapa ia harus tercabut dari tanah untuk sebuah pengorbanan sia-sia.

Cinta ala bunga mawar yang mekar hanya untuk sehari atau bahkan hanya untuk semalam.

Habis indah wangi mawar. Yang tinggal adalah getir pedih penyesalan.

Atau bila cinta terbatas layaknya setangkai mawar merah impor. Wajar pula waktu meluruhkan merahnya, meninggalkan kering kelopak tanpa nyawa.

Ketika membacanya, pikiranku pun langsung tersentak.  Aku tersadar. Sungguh, aku sendiri tak menginginkan cinta yang seperti itu. Lebih baik menunggu hingga aku benar-benar siap, sembari aku memperbaiki diriku secara bertahap, daripada memaksa hingga akhirnya cinta tak asyik dirasakan lagi.

IMG_0016

Setangkai Bunga Mawar via http://www.flickr.com/photos/60258984@N05/

Bunga mawar, kalau yang kutuliskan tadi itu ternyata benar, aku sangat kecewa padamu.

dari aku, yang kau kecewakan

P.S.: Kata-kata di atas diambil dari buku karangan Felix Siauw berjudul “Udah Putusin Aja”.

The following two tabs change content below.

mahisaajy

PMG Ahli Pertama, Bidang Manajemen Database at BMKG
Seorang pemuda luar biasa yang mempunyai hobi menulis, membaca, dan bermusik. Tertarik dengan bidang ilmu komputer untuk memecahkan beberapa persoalan. Co-Founder Triglav ID dan Co-Founder METLIGO. Sejak tahun 2018 bekerja di BMKG di bagian Pusat Database.

One thought on “Cinta Setangkai Mawar

  1. hmm, masuk akal sih. pilihlah jalan dan cara mencintaimu sendiri, orang lain hanya pemberi ide.
    semangaaattttt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *