Bumbu “Kemacetan” Saat Perjalanan Balik

Apa kabar kalian semua?

Ohya, kita belum sempat ber-lebaran loh ya. Mohon maaf lahir dan batin apabila terdapat perkataan dan perilaku saya yang selama ini tidak menyenangkan kepada Anda semua. Ibarat kata mutiara yang sudah sering kita dengar, “Manusia adalah tempatnya salah.” Kita sebagai manusia pun diwajibkan untuk memaafkan setiap kesalahan sesama makhluk-Nya.

Sekarang kita sudah memasuki hari sesudah lebaran yang kesekian kalinya ya. Masih di kampung-kah kalian? Sengaja menghindari macet, ya, saat kembali ke rumah masing-masing? Enaknya.. Saya bahkan masih tetap saja merasakan suasana macet. Entah mudik, entah balik. Mungkin, macet dan saya adalah dua sahabat karib yang tak dapat dipisahkan. Ada-ada saja..

Padahal, menurut analisis yang saya lakukan, kiranya arus balik mencapai puncaknya yaitu pada hari minggu. Karena esoknya (hari senin), banyak pekerja kantoran yang harus sudah masuk kerja. Namun, di hari senin kemarin, ternyata masih banyak saja mobil serta motor yang berkeliaran di jalan. Alhasil, perjalanan pulang saya kemarin pun tetap dibumbui oleh bumbu rasa “macet”.

Tetapi tak apa. Yang penting saya beserta keluarga sudah mencapai tempat peristirahatan yang sangat nyaman, yaitu rumah kami sendiri alias istana kami.

Yasudah, Titi DJ (Hati-hati di jalan) ya, bagi yang hendak kembali ke rumah masing-masing. Semoga perjalanan pulang kalian dilancarkan dan dilindungi oleh Gusti Allah. Merdeka.

Malam Takbiran di Sumber Cahaya

Setelah pada tulisan sebelumnya saya sempat membahas cahaya lampu yang “berkeliaran” di langit malam Kota Klaten, maka pada keesokan malamnya saya berkesempatan mendatangi sumber cahaya tersebut.

Jalanan malam itu memang sangat ramai sekali, karena memang bertepatan dengan malam takbiran bagi umat muslim. Hampir sepanjang jalan saya mendengar seruan “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.. Laillahailallah Allahuakbar.. Allahuakbar Walillahilham.” Kebesaran-Nya dikumandangkan sebagai tanda berakhirnya bulan suci Ramadhan dan untuk menyambut hari yang fitri (Idul Fitri) ini pada esok harinya. Belum lagi suara “Ronggg Ronggg” dari knalpot kendaraan yang sengaja di-“geber” oleh anak-anak muda tersebut. Semakin tambah ramai saja suasana di jalanan pada malam hari itu.

Saya menikmati sekali perjalanan ini. Dengan menaiki kendaraan tangguh milik Ayah, saya pun mengendarainya dengan penuh semangat. Batu-batuan dan jalanan yang berlubang, pun saya lalui dengan “mudahnya”. Paling-paling, para sepupu yang ikut pergi bersama saya, lambat laun mulai menegur saya. Mungkin saja karena saya mengendarainya dengan sedikit “ugal-ugalan”. Ya, harap dimaklumi saja.

Seringkali, kendaraan yang saya gunakan berada di belakang mobil dan motor anak-anak muda yang sedang menyerukan kebesaran Tuhan tersebut. Untungnya ada sepupu yang memberitahukan beberapa jalan pintas yang dapat dilalui untuk sampai kesana. Sehingga perjalanan kami terasa sedikit lancar.. car.. car..

Sesampainya disana, saya pun melihat langsung sumber cahaya yang mampu menerobos gelapnya langit malam tersebut. Cahayanya panjang sekali. Cahaya dari lampu senter tentu kalah jauh bila dibandingkan dengan cahaya tersebut. Sumber cahaya yang saya maksud ini berasal dari lokasi pasar malam yang ada di kota tercinta ini.

Dapat dibayangkan, betapa ramainya tempat yang sedaritadi hendak dituju ini. Mungkin saja inilah pusat kotanya. Mungkin.. Banyak sekali anak-anak muda yang mengitari tempat tersebut. Bahkan kebanyakan dari mereka yang berpasang-pasangan. Mereka bergandengan tangan di jalanan, mereka ber.. Ah, sudahlah. Bikin iri saja, mereka..

Suasana di dalamnya pun tak kalah ramainya dengan suasana di luar. Seperti pada kebanyakan pasar malam di kota-kota lainnya, pasar malam ini juga menyediakan arena bermain, makanan ringan, bahkan sedikit peraduan nasib juga ada disini.

Mengenai peraduan nasib, itu loh salah satunya permainan yang apabila kita berhasil memasukkan bola ping-pong ke dalam gelas, dan apabila berhasil masuk maka kita akan mendapatkan hadiah dari si pemilik permainan tersebut. Malam itu saya sempat mencobanya. Namun, alunan bola yang keluar dari tangan saya ternyata masih belum mampu menaklukan permainan tersebut. Mungkin di lain kesempatan saya akan mencobanya lagi, serta pulang dengan membawa semua hadiah yang ada. Tunggu saja kesempatan itu.

Secara keseluruhan, saya menikmati suasana disana. Sudah lama juga saya tidak menikmati indahnya pasar malam. Bukan karena gengsi, melainkan tidak adanya waktu yang tepat untuk bersenang-senang di tempat seperti itu. Beruntung kemarin saya merasakan kembali euforianya disana.

Yuk, lanjut bertakbir.

“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.. Laillahailallah Allahuakbar.. Allahuakbar Walillahilham.”

Berikut salah dua dari foto-foto kami kemarin. 🙂

pasar malam 3

pasar malam 2

Selamat Malam Kota Klaten

Setelah semalam puas bermalam di Sukoharjo, malam ini waktunya saya bermalam di Klaten. Beginilah memang kehidupan keluarga saya, yang hampir setiap malamnya berpindah-pindah, karena lokasi rumah kakek nenek dari ayah dan ibu yang memang berdekatan. Jarak antar keduanya tidak sampai melebihi satu jam.

Klaten merupakan kota yang sangat ramah menurut saya. Nuansa jawanya pun terasa cukup kental disini. Hampir setiap tahun, di tempat ayah saya tinggal, selalu diadakan acara pementasan wayang. Saya sangat tertarik sekali untuk melihat acara pewayangan tersebut, karena memang di daerah rumah saya tidak pernah ada hal seperti itu. Ya iyalah, wong sukunya saja beragam.

Acara wayang tersebut biasanya merupakan tanda rasa syukur apabila panen sukses. Namun, biasanya acara tersebut disesuaikan juga dengan waktu mudik lebaran. Supaya semakin banyak warga yang dapat menikmati acara tersebut.

Wayang tersebut diperagakan oleh dalang. Bahasa yang digunakan pun juga bahasa setempat, yaitu bahasa Jawa.  Saat menontonnya, seringkali saya kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh dalang tersebut. Ah, menyedihkan sekali ya, katanya keturunan Jawa, tapi kok ngomong Jawa saja tidak bisa. Hmm sudahlah.. Semoga saja tahun ini acara wayang tersebut diadakan. Tapi sepertinya kecil kemungkinannya.

Malam ini, apabila saya perhatikan lebih lanjut, langit malam di kota ini nampak terlihat lebih jelas. Bintang-bintangnya pun terlihat ramah menyinari bumi pertiwi ini. Malahan, tadi saya juga sempat melihat sinar dari kejauhan yang menyinari langit malam tersebut. Saya tahu betul, pasti sinar tersebut berasal dari lokasi salah satu malam pasar malam yang ada di kota ini.

Malam sudah semakin bertambah larut. Waktunya istirahat bagi jiwa yang lelah. Waktunya bersenang-senang bagi jiwa yang sepi. Waktunya berperang bagi jiwa yang sedang tertindas. Selamat malam kota Klaten.

Kalau Gak Macet, Ya Bukan Mudik Namanya

Pagi tadi, kira-kira sekitar pukul 9, akhirnya saya beserta “tim mudik” alias keluarga sudah bisa beristirahat di rumah embah yang berada di Sukoharjo. Kurang lebih 24 jam lamanya saya menghabiskan waktu di jalan.

Kemacetan terjadi dimana-mana. Pantauan yang dilakukan oleh detik.com sangat membantu kami dalam mengambil langkah terbaik untuk menghindari kemacetan. Dari detik.com lah kami mengetahui bahwa terjadi kemacetan sepanjang 1 km menjelang pintu keluar tol Cikampek. Alhasil, kami menghindari pintu keluar tersebut. Namun, kecurigaan tetap saja timbul. Kami akhirnya memutuskan keluar di pintu tol lain. Sesaat setelah itu, kecurigaan yang tadinya merasuki pikiran pun tiba-tiba saja mulai terjadi.

Kami sampai di pertigaan jalan besar. Seharusnya disitu kami mengambil arah kanan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, portal-portal yang lumayan banyak tersebut cukup menghalangi jalan kami. Belum lagi pos polisi di seberang jalan yang menandakan bahwa jalan tersebut memang “sengaja” ditutup oleh mereka. Mau tak mau kami menurut. Kemudian kami memutuskan belok ke arah kiri untuk memutari jalan tersebut.

Kami pikir putaran tersebut tidaklah jauh. Namun, apa yang kami pikirkan dengan yang kami rasakan saat itu sangatlah berbeda jauh. Seiring waktu berlalu, putaran tersebut belum juga kami temui. Belum lagi kemacetan yang saat itu terjadi. Ya, cukuplah membuat kami semua menjadi gregetan. Mungkin tidak hanya kami saja, hampir semua pengemudi pasti merasakan hal yang sama. Kalau gak macet, ya bukan mudik namanya. Hehehe.

Mungkin apabila ditotal, setelah memutar di putaran tersebut, hingga kami sampai di pertigaan jalan besar tersebut, menghabiskan waktu sekitar 3 jam. 3 jam itu waktu yang tidak sedikit lohh.. Dengan waktu kurang dari 3 jam saja, saya bahkan bisa menyelesaikan permainan “Mr. Bean” yang syarat dengan kemampuan logika berpikir tersebut. Hehe.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di perjalanan yang kami lalui kemarin, seringkali kami menemukan rombongan bis yang mengangkut banyak sekali penumpang. Bahkan bis yang boleh dikatakan 1 perguruan tersebut (maksudnya dengan model dan warna corak yang sama) , itu kurang lebih terdapat sekitar 23 bis. Saya bisa tahu total ada 23 bis tersebut karena melihat “nomor punggung” yang tertera di bis tersebut. 😀

Selain itu, juga terdapat beberapa truk-truk pengangkut puluhan motor (atau mungkin ratusan). Sepertinya ini merupakan program kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan tertentu dalam hal efisiensi saat perjalanan mudik. Oh, iya dong. Karena pengendara motor tidak usah capek-capek “bertarung” dan berpacu di jalan raya. Mereka cukup bersantai ria di dalam bis tersebut, bahkan dengar-dengar disediakan pula makanan gratis dan pelayanan lainnya. Hehe. Belum lagi juga masalah kecelakaan yang seringkali terjadi. Entah itu karena mengantuk saat perjalanan, ban kempes atau bocor, dan hal lain sebagainya. Memang benar, pemerintah musti melakukan sesuatu untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.

Ngomong-ngomong mengenai soal mengantuk tersebut, kami terkadang juga berhenti untuk sekedar beristirahat yang disesuaikan dengan waktu berbuka puasa atau shalat lima waktu.

Bahkan, kemarin kami singgah di rumah makan yang tepat sekali. Soalnya di tempat tersebut menyediakan menu pecel ayam yang nikmat sekali. Belum lagi sambelnya. Beuhhh. Hehehe.

Hmm apalagi ya. Mungkin itu saja dulu cerita mengenai perjalanan yang saya lalui kemarin. Semoga masih banyak lagi hal-hal menarik selama saya liburan disini. Hehehe.

Ohya, saya punya sedikit pesan untuk kalian yang hendak mudik.

Selamat bermacet-macet ria ya!

Siap-Siap ‘Mudik’

Akhirnya, tiba juga hari dimana saya akan melakukan sebuah perjalanan menuju kampung halaman. Perjalanan yang akan saya lakukan ini mungkin istilah kerennya disebut “Mudik”. Klaten, Sukoharjo, tunggu aku ya. Duduk yang manis saja dulu disanaaa.

Kemarin, saya baru saja membaca artikel seputar Mudik. Mudik itu berasal dari kata Udik, yang artinya desa atau kampung. Entah huruf M di depannya itu mengartikan apa. Yang pasti Mudik berarti pergi ke kampung. Atau kita menyebutnya dengan istilah pulang kampung. 😀

Semua barang sepertinya sudah saya persiapkan semuanya. Mulai dari peralatan ibadah, peralatan mandi, pakaian secukupnya, jaket, Handphone, Charger, serta buku 🙂 . Apa lagi ya yang kurang?

Sambil menunggu saudara datang, saya sempatkan saja menulis tulisan ini, dan juga sembari melanjutkan beberapa tugas yang tersisa. Tugas everywhere. Yuhuuu.

Semoga perjalanan mudik kali ini berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala dan yang paling penting yaitu selamat sampai tujuan. Hehe.

Ohya, kalau kalian mudiknya kemana? Kapan?

Semoga perjalanan kita semua dilancarkan oleh Tuhan ya. 🙂