Selamat Malam Kota Klaten

Setelah semalam puas bermalam di Sukoharjo, malam ini waktunya saya bermalam di Klaten. Beginilah memang kehidupan keluarga saya, yang hampir setiap malamnya berpindah-pindah, karena lokasi rumah kakek nenek dari ayah dan ibu yang memang berdekatan. Jarak antar keduanya tidak sampai melebihi satu jam.

Klaten merupakan kota yang sangat ramah menurut saya. Nuansa jawanya pun terasa cukup kental disini. Hampir setiap tahun, di tempat ayah saya tinggal, selalu diadakan acara pementasan wayang. Saya sangat tertarik sekali untuk melihat acara pewayangan tersebut, karena memang di daerah rumah saya tidak pernah ada hal seperti itu. Ya iyalah, wong sukunya saja beragam.

Acara wayang tersebut biasanya merupakan tanda rasa syukur apabila panen sukses. Namun, biasanya acara tersebut disesuaikan juga dengan waktu mudik lebaran. Supaya semakin banyak warga yang dapat menikmati acara tersebut.

Wayang tersebut diperagakan oleh dalang. Bahasa yang digunakan pun juga bahasa setempat, yaitu bahasa Jawa.  Saat menontonnya, seringkali saya kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh dalang tersebut. Ah, menyedihkan sekali ya, katanya keturunan Jawa, tapi kok ngomong Jawa saja tidak bisa. Hmm sudahlah.. Semoga saja tahun ini acara wayang tersebut diadakan. Tapi sepertinya kecil kemungkinannya.

Malam ini, apabila saya perhatikan lebih lanjut, langit malam di kota ini nampak terlihat lebih jelas. Bintang-bintangnya pun terlihat ramah menyinari bumi pertiwi ini. Malahan, tadi saya juga sempat melihat sinar dari kejauhan yang menyinari langit malam tersebut. Saya tahu betul, pasti sinar tersebut berasal dari lokasi salah satu malam pasar malam yang ada di kota ini.

Malam sudah semakin bertambah larut. Waktunya istirahat bagi jiwa yang lelah. Waktunya bersenang-senang bagi jiwa yang sepi. Waktunya berperang bagi jiwa yang sedang tertindas. Selamat malam kota Klaten.

Kalau Gak Macet, Ya Bukan Mudik Namanya

Pagi tadi, kira-kira sekitar pukul 9, akhirnya saya beserta “tim mudik” alias keluarga sudah bisa beristirahat di rumah embah yang berada di Sukoharjo. Kurang lebih 24 jam lamanya saya menghabiskan waktu di jalan.

Kemacetan terjadi dimana-mana. Pantauan yang dilakukan oleh detik.com sangat membantu kami dalam mengambil langkah terbaik untuk menghindari kemacetan. Dari detik.com lah kami mengetahui bahwa terjadi kemacetan sepanjang 1 km menjelang pintu keluar tol Cikampek. Alhasil, kami menghindari pintu keluar tersebut. Namun, kecurigaan tetap saja timbul. Kami akhirnya memutuskan keluar di pintu tol lain. Sesaat setelah itu, kecurigaan yang tadinya merasuki pikiran pun tiba-tiba saja mulai terjadi.

Kami sampai di pertigaan jalan besar. Seharusnya disitu kami mengambil arah kanan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, portal-portal yang lumayan banyak tersebut cukup menghalangi jalan kami. Belum lagi pos polisi di seberang jalan yang menandakan bahwa jalan tersebut memang “sengaja” ditutup oleh mereka. Mau tak mau kami menurut. Kemudian kami memutuskan belok ke arah kiri untuk memutari jalan tersebut.

Kami pikir putaran tersebut tidaklah jauh. Namun, apa yang kami pikirkan dengan yang kami rasakan saat itu sangatlah berbeda jauh. Seiring waktu berlalu, putaran tersebut belum juga kami temui. Belum lagi kemacetan yang saat itu terjadi. Ya, cukuplah membuat kami semua menjadi gregetan. Mungkin tidak hanya kami saja, hampir semua pengemudi pasti merasakan hal yang sama. Kalau gak macet, ya bukan mudik namanya. Hehehe.

Mungkin apabila ditotal, setelah memutar di putaran tersebut, hingga kami sampai di pertigaan jalan besar tersebut, menghabiskan waktu sekitar 3 jam. 3 jam itu waktu yang tidak sedikit lohh.. Dengan waktu kurang dari 3 jam saja, saya bahkan bisa menyelesaikan permainan “Mr. Bean” yang syarat dengan kemampuan logika berpikir tersebut. Hehe.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di perjalanan yang kami lalui kemarin, seringkali kami menemukan rombongan bis yang mengangkut banyak sekali penumpang. Bahkan bis yang boleh dikatakan 1 perguruan tersebut (maksudnya dengan model dan warna corak yang sama) , itu kurang lebih terdapat sekitar 23 bis. Saya bisa tahu total ada 23 bis tersebut karena melihat “nomor punggung” yang tertera di bis tersebut. 😀

Selain itu, juga terdapat beberapa truk-truk pengangkut puluhan motor (atau mungkin ratusan). Sepertinya ini merupakan program kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan tertentu dalam hal efisiensi saat perjalanan mudik. Oh, iya dong. Karena pengendara motor tidak usah capek-capek “bertarung” dan berpacu di jalan raya. Mereka cukup bersantai ria di dalam bis tersebut, bahkan dengar-dengar disediakan pula makanan gratis dan pelayanan lainnya. Hehe. Belum lagi juga masalah kecelakaan yang seringkali terjadi. Entah itu karena mengantuk saat perjalanan, ban kempes atau bocor, dan hal lain sebagainya. Memang benar, pemerintah musti melakukan sesuatu untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan tersebut.

Ngomong-ngomong mengenai soal mengantuk tersebut, kami terkadang juga berhenti untuk sekedar beristirahat yang disesuaikan dengan waktu berbuka puasa atau shalat lima waktu.

Bahkan, kemarin kami singgah di rumah makan yang tepat sekali. Soalnya di tempat tersebut menyediakan menu pecel ayam yang nikmat sekali. Belum lagi sambelnya. Beuhhh. Hehehe.

Hmm apalagi ya. Mungkin itu saja dulu cerita mengenai perjalanan yang saya lalui kemarin. Semoga masih banyak lagi hal-hal menarik selama saya liburan disini. Hehehe.

Ohya, saya punya sedikit pesan untuk kalian yang hendak mudik.

Selamat bermacet-macet ria ya!

Siap-Siap ‘Mudik’

Akhirnya, tiba juga hari dimana saya akan melakukan sebuah perjalanan menuju kampung halaman. Perjalanan yang akan saya lakukan ini mungkin istilah kerennya disebut “Mudik”. Klaten, Sukoharjo, tunggu aku ya. Duduk yang manis saja dulu disanaaa.

Kemarin, saya baru saja membaca artikel seputar Mudik. Mudik itu berasal dari kata Udik, yang artinya desa atau kampung. Entah huruf M di depannya itu mengartikan apa. Yang pasti Mudik berarti pergi ke kampung. Atau kita menyebutnya dengan istilah pulang kampung. 😀

Semua barang sepertinya sudah saya persiapkan semuanya. Mulai dari peralatan ibadah, peralatan mandi, pakaian secukupnya, jaket, Handphone, Charger, serta buku 🙂 . Apa lagi ya yang kurang?

Sambil menunggu saudara datang, saya sempatkan saja menulis tulisan ini, dan juga sembari melanjutkan beberapa tugas yang tersisa. Tugas everywhere. Yuhuuu.

Semoga perjalanan mudik kali ini berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala dan yang paling penting yaitu selamat sampai tujuan. Hehe.

Ohya, kalau kalian mudiknya kemana? Kapan?

Semoga perjalanan kita semua dilancarkan oleh Tuhan ya. 🙂

Merubah Paradigma, dari Downloader menjadi Uploader

Memiliki banyak file (ebook, musik, video, gambar, dan lain-lain) itu memang menyenangkan. Kita dapat menentukan file apa yang akan kita gunakan saat itu juga. Kita juga bebas memilihnya. Mau ini, mau itu, ya monggoooooo. Ibaratnya, semakin banyak ragam jenisnya, maka semakin bahagialah kita.

Terutama, bagi kalian yang sangat hobi sekali mengunduh (download) berbagai macam file yang tersebar luas di Internet. Apapun itu. Mungkin kalian akan semakin berbesar hati apabila telah selesai mengunduh file tersebut. “Gratis men. Iya, benar. Mumpung gratis loh.” begitu katanya.

Tetapi, apakah file tersebut pada akhirnya akan kalian gunakan secara maksimal, atau malah hanya memenuhi ruang di harddisk saja?

Saya seringkali dihadapkan pada situasi tersebut. Hmm, maksudnya bukan karena saya seorang downloader sejati lohhh. Hehehe. Situasi tersebut terjadi pada saat saya melihat sesuatu yang menarik yang terdapat pada website tertentu. Biasanya saya tertarik terhadap ebook-ebook yang ada. Tanpa pikir panjang, saat itu saya langsung saja mengunduh file-file ebook tersebut. Alasannya hanya satu, karena koneksi sedang cepat-cepatnya, dan sayang sekali apabila dibiarkan begitu saja. 😀

Lucunya, seringkali saya tiba-tiba menjadi lupa ingatan akan file yang telah saya unduh tersebut.Hingga pada akhirnya file tersebut hanya menjadi angin lalu saja. Atau mungkin, bila tidak lupa, maka menjadi pura-pura lupa. Mengenaskan sekali, bukan? 🙁 Kalau kalian bagaimana?

Sangat berbanding terbalik sekali ya. Saat proses pengunduhannya semangat sekali, namun, saat hendak membacanya tiba-tiba saja rasa malas teramat sangat mulai menghantui diri kita. Apabila kejadian tersebut berulang-ulang, maka harddisk komputer lah yang akan menanggung akibatnya. Semakin banyak saja file yang berada di komputer, dan lama kelamaan berpengaruh terhadap performa komputer.

Paradigma tersebutlah yang seharusnya kita rubah, atau sebaiknya kita perbaiki. Mungkin kita dapat memilah dan memilih setiap file yang hendak kita unduh. Bersikaplah lebih bijak, supaya tidak repot-repot untuk menghapus file-file lainnya guna memberikan ruang di harddisk. Karena menghapus file itu rasanya sangat tidak menyenangkan sekali. Benar tidak?

Kita juga dapat merubah peran kita. Yang tadinya downloader sejati, menjadi uploader sejati. Upload saja file-file yang menurut kalian berguna bagi orang banyak. Jangan pernah takut untuk berbagi.

Saat ini saya juga sedang berusaha untuk itu. Namun, bukan dalam bentuk file, melainkan pemikiran. Ya, seperti yang tertuang di dalam blog ini. Mungkin kalian menyebutnya curhatan, tapi saya menyebutnya pemikiran. 🙂

Keep sharing, guys!

Bukber dengan Teman-Teman dari SMSI-01

Puasa di bulan suci Ramadhan biasanya tidak terlepas dari yang namanya acara buka puasa bersama, atau biasa disingkat “Bukber”. Biasanya Bukber ini digunakan sebagai ajang reuni atau sekedar kumpul-kumpul bagi kebanyakan orang. Iya engga sih? Kalau saya sendiri mengganggap acara Bukber tersebut berguna untuk mempererat tali silaturahim diantara kita. Yang tadinya jauh menjadi dekat, yang tadinya dekat menjadi tambah dekat lagi. Semakin hari maka semakin banyak. Semakin mendekati akhir-akhir puasa, biasanya tawaran Bukber maka akan semakin banyak. Itulah biasanya fenomena Bukber yang hampir dirasakan oleh semua orang. Itu tinggal pilihan Anda untuk menjawab “Iya” atau “Tidak”. Terserahh kok.. Hehe.

Kemarin, untuk kesekian kalinya, saya hadir di acara Bukber. Kemarin adalah “jatahnya” buka puasa bersama dengan teman-teman sekelas dari Sarmag Sistem Informasi, atau biasa kami menyebutnya SMSI-01. Dengan nuansa putih-biru, kami pun menggemparkan gedung Graha Simatupang. Terutama di lantai 9. Iya, itulah markas kami kemarin. Huahaha.

Overall sih seru. Seru banget malahh. Ada games dan musik. Ada tawa serta canda. Ada keseruan dan kegilaan diantara kami semua. Semua yang menarik pun berkumpul menjadi satu lewat acara kemarin.

Mungkin, bukber kali ini menjadi bukber yang terakhir di gedung tempat kami bernaung serta menuntut ilmu ini. Gosipnya sih kami semua akan dipindah-tempatkan. Entah jadi atau tidak, ya itu urusan belakangan. Mau dimanapun itu tak menjadi masalah. Asalkan seluruh penghuni kelasnya dapat hadir itupun sudah lebih dari cukup.

Ohya, tetap semangat teman-teman! Lanjutkan tugas-tugas yang tersisa di detik-detik menjelang libur Ramadhan ini, Yeahhh!

Beberapa screenshot acara kemarin. Smileeeee. 🙂

bukber smsi-01 1

bukber smsi-01 2

bukber smsi-01 3

bukber smsi-01 4

bukber smsi-01 5

bukber smsi-01 6

bukber smsi-01 7