Main Musik: Hari Biru

Sudah lama tidak menulis tentang main musik, akhirnya pada tulisan kali ini tersampaikan juga. Kali ini saya akan memainkan sebuah lagu berjudul Hari Biru. Kebetulan lagu ini tercipta secara tidak sengaja oleh saya sendiri.

Lagu ini menceritakan tentang suatu hari yang telah ditunggu-tunggu oleh seseorang. Seseorang ini menantikan pertemuan dengan seseorang yang dikasihinya, yang sejak dulu telah mengisi relung hati dengan senyum-senyum terbaiknya. Sudah lama tak bertemu memang mengakibatkan rindu yang tak tertahankan. Semoga hari biru ini bisa menjadi hari terindah dalam hidupnya.

Liriknya sederhana, kuncinya pun juga sederhana. Cuma CMaj7 Dm7, terus reffnya Em7 Am7 Dm7 G. Udah kok itu aja..

Coba dengarkan saja dulu. Suaranya memang jauh dari kata merdu, tapi semoga liriknya merdu. 🙂 Haha maklum saya blogger, bukan penyanyi. 🙂

Selamat menikmati.

Lirik lagu Hari Biru

Hari biru.. Hari yang kutunggu-tunggu
Sejak dulu.. Saat kau tersenyum kepadaku
Hari biru.. Ku ingin bertemu kamu
Yang telah lama.. Mengisi relung hatiku

Ooo.. Kusiapkan langkah kaki menujumu..
Sambutlah ku dengan rasa itu..

Hari biru.. Hari ini untuk kamu
Warnai hari.. Dengan senyum terbaikmu
Hari biru.. Ku ingin mengajak kamu
Jalani hari.. Berdua denganmu

Ooo.. Percayakan langkah kaki kita
Jangan.. Ragu-ragu untuk melangkah

Hari biru.. Aku untuk kamu

Hari Biru
Hari Biru oleh Mahisa Ajy Kusuma

 

Kembali Bermusik

Hari ini adalah hari musik. Iya, saya menyebutnya seperti itu. Setelah sekian lama, akhirnya saya diberi kesempatan kembali untuk bermusik di hadapan banyak orang.

Sudah lama juga tak merasakan suasana ini. Berada di depan banyak orang dan diharuskan untuk menghibur mereka semua. Wajah-wajah yang terlihat pun tentu berbeda setiap orangnya. Ada yang penasaran dengan musik apa yang akan saya bawakan bersama teman-teman nanti. Ada juga yang sinis meragukan kemampuan kami dalam bermusik. Ada juga yang menatap dengan tatapan kosong. Kelihatannya yang terakhir itu ia sedang memikirkan sesuatu hal yang tak kasatmata namun kasathati.. Tak terlihat, memang, namun terasa.. Sungguh unik sekali..

Ada juga yang menatap dengan tatapan kosong. Kelihatannya yang terakhir itu ia sedang memikirkan sesuatu hal yang tak kasatmata namun kasathati.. Tak terlihat, memang, namun terasa..

Musik yang kami bawakan juga unik sekali. Ini lagu yang tak semua orang tahu, bahkan saya sendiri pun tak tahu sebelum sahabat saya yang mempromosikan lagu ini kepada saya. Walau unik, tapi tetap asyik.. Ini lagu rohani mereka, tapi pesan yang disampaikan sangat tepat untuk semua umat..

ooh terlihat indah, semua nampak mempesona..
bila hati sedang merasa suka bahagia..

dan terlihat gelap semua menjadi berubah..
saat hati sedang dirundung duka..

sangat tipis batas suka duka..
lenyap suka muncullah derita..
tak satupun yang terus bahagia..
sejak dulu begini adanya..

mungkin kita harus bijaksana..
hati sadar dan juga waspada..
menghadapi perubahan dunia..
oh oh anicca..

Iya, kata-kata di atas adalah liriknya.. Ulang-ulangi saja. Saya sendiri saja sampai hapal..

Saya coba mulai dari awal kejadian. Waktunya telah tiba.. Kami bergerak menuju ke depan, di hadapan mereka-mereka semua. Dengan langkah mantap saya berjalan, sembari mengesampingkan sedikit keraguan. Saya masih tersenyum dengan sedikit angkuh..

Masing-masing dari kami disediakan tempat, untuk duduk dan berkarya. Untuk mengekspresikan sentuhan musik kami.. Dengan gitar dalam genggaman, saya mempertaruhkan semuanya. Segala kemampuan yang saya miliki, coba saya pamerkan..

Lagu pun dimulai.. Entah perasaan apa yang akan mereka rasakan pertama kali mendengar penampilan kami. Tapi, tak lama mulai terdengar suara-suara dari arah depan. Ternyata mereka turut bernyanyi dan bertepuk tangan.

Beberapa dari mereka terlihat menggerakkan mulutnya masing-masing. Mengucap kata-kata yang sama dengan kata-kata yang vokalis kami sedang nyanyikan. Mereka tenggelam dalam lantunan, saya pun tenggelam dalam melodi-melodi gitar yang saya sajikan.

Lagu selesai dan meninggalkan kenangan yang singkat sekali..

Terima kasih, semuanya. Berbanggalah kalian karna telah dihibur oleh kami-kami ini.. 🙂

Terima kasih juga buat kawan-kawan seperjuangan: Alicia, Bagus, dan Mamat. Kalian luar biasaa…

IMG_20140614_152434

IMG_20140614_152441

IMG_20140614_170908

IMG_20140614_173839

Main Musik: Acoustic Blues

Dalam tulisan bernada “main musik” kali ini, lagu yang saya mainkan adalah ber-genre Blues. Sebenarnya ini buah keisengan saya mempelajari salah satu genre yang sedang saya sukai sekarang ini. Awalnya, sejak beberapa hari kemarin, saya memang asyik menikmati alunan musik Blues. Mulai dari Youtube sampai ke situs-situs lainnya pun saya jelajahi. Dan akhirnya sampailah saya pada sebuah lick yang cocok sekali untuk dipelajari oleh pemula seperti saya ini.

Jari-jemari yang sudah siap untuk menari lincah di atas fret gitar.
Jari-jemari yang sudah siap untuk menari lincah di atas fret gitar.

Dari keseluruhan tutorial yang saya lihat, sampailah pada satu kesimpulan (versi saya sendiri) bahwa dasar-dasar scale Blues itu cukup mudah. Cuma variasinya saja yang perlu “digojlok” lebih lanjut. Saya yakin semua pasti bisa, dan saya sedang berusaha menuju arah “bisa” tersebut 🙂

Dari melihat-lihat tersebut, timbullah niat untuk mempelajarinya. Saya coba fokus ke video ini. Tapi, sayangnya, jari saya terlalu sering “keserimpet” ke dalam senar. Setelah melewati belasan kali latihan, akhirnya posisi tangan saya pun sudah mulai bisa beradaptasi dengan perpindahan ini.

Bukan anak muda namanya, kalau tidak punya beberapa akun di beberapa media sosial. Saya pun begitu, salah satun media sosial yang saya miliki itu Soundcloud. Mubadzir nampaknya kalau hanya punya akun tersebut, tapi tidak pernah diurus. Ya, tanpa pikir panjang, saya iseng memainkan lick blues tersebut, kemudian saya upload deh ke Soundcloud. Kalau kalian mau mendengar, ini saya sudah berbaik hati menguploadnya dan memberikan linknya. Saya tunggu komentar-komentarnya. Oh, yaa, satu lagi.. Kalau mau follow, ya follow ajaa. Gak usah malu..

Gitarku, Perjuanganku

Mari kita samakan nada terlebih dahulu, baru kemudian kita goncangkan panggung yang ada di depan mata kita saat ini. Bukan panggung biasa, tapi panggung kehidupan. Dengan gitar dalam dekapan, kita torehkan cerita-cerita indah di atas sana.

Dahulu, saat masih merasakan masa-masa sekolah di SMP, saya mengenal alat musik yang hebat ini. Di kelas. Mereka memainkannya dengan canda serta tawa. Menghibur dirinya yang sedih dan begitu juga hati orang lain yang sedang memiliki perasaan yang sama. Mereka semua melebur menjadi satu. Mengeluarkan satu suara tapi tak satu nada. Mungkin karena saya ikut bernyanyi disitu. Nada yang coba saya keluarkan terkadang berubah-ubah. Maklum, saya bukan penyanyi dan (saat itu) juga bukan pemain gitar. Yang penting saya ikut meramaikan suasana. Karena tak penting kesempurnaan itu tanpa disertai kebersamaan.

Karena tak penting kesempurnaan itu tanpa disertai kebersamaan.

Dari situ, saya tertarik untuk bisa memainkan alat musik ini. Perasaan sesedih apapun mungkin dapat sirna dengan memainkan alat tersebut.

Akhirnya, tak lama setelah itu, saya sudah bisa memilikinya. Senangnya bukan main. Mungkin tak bisa dilukiskan dengan kata-kata dan tak bisa diucapkan dengan nada-nada. Langsung saja saya dekap, dan coba memetik senar-senar tersebut secara berurutan dari atas ke bawah. “Jreng, jreng, jreng, jreng, jreng, jreng”. Setelah itu, saya langsung melakukan genjrengan langsung dari atas ke bawah. “Jreeenngg”. Bunyinya terdengar agak kacau. Mungkin karena belum disesuaikan. Walaupun begitu, saya tetap merasa senang. Iya, pokoknya senang. Titik.

gitarku
Sahabat

Buku panduan gitar pun saya dapatkan juga. Saya baca, kemudian saya praktikkan langsung. Saya pelajari kunci-kunci dasar. Dalam buku itu juga terdapat kunci lagu-lagu sederhana yang tentu saja bisa langsung saya coba.

Kaku sekali. Suara saya masih lebih cepat dibandingkan dengan iringan gitar. Tak asik, memang. Tapi, entah kenapa, saya sangat penasaran sekali untuk bisa menguasainya. Berkali-kali latihan, dari pagi siang dan malam, saya coba jalani. Mulai dari meluangkan waktu untuk berlatih, sampai waktu senggang saat belajar pun saya curi untuk mempelajarinya.

Bulan-bulan pertama masih sama. Namun, menginjak bulan berikutnya, kemampuan saya pun sudah bertambah. Yang tadinya nilainya 0, sekarang nilainya sudah bertambah menjadi 0.1. Selain buku panduan, saya juga ditemani oleh buku kumpulan kunci gitar lagu-lagu indonesia. Saya dan teman-teman menyebutnya dengan “MBS”. Entahlah itu singkatan dari apa, saya tak terlalu memikirkan. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa memainkan lagu-lagu yang ada didalamnya.

Tak semua lagu bisa saya iringi. Tingkat kesulitannya pun berbeda-beda. Mulai dari lagu-lagu yang mudah sampai yang sulit ada semua disini. Tempo cepat pun masih mengganggu irama saya saat melakukan perpindahan kunci. Sering sekali saya tergelincir dan terperangkap ke sela-sela senar. Sakit awalnya, dan masih sakit kemudian.

Ketika ada teman yang berkunjung ke rumah, dengan bangganya saya memainkan alat musik ini. Lagu-lagu seperti “Surga-Mu”, “Demi Waktu”, “Seperti yang Dulu” saya sajikan ala kadarnya. Karena memang lagu-lagu itulah yang mengantarkan saya menjadi gitaris amatir seperti saat ini.

Mereka kagum dan kelihatannya ingin bisa seperti saya. Mungkin.. Sambil belajar saya juga coba membantu mereka belajar. Tak ada salahnya berbagi.

Beberapa waktu setelahnya, koleksi lagu-lagu yang dapat saya mainkan pun bertambah. Butuh waktu untuk menguasainya dan menghapalkannya. Pernah sesekali saya lupa. Sepertinya nada-nada tersebut perlu dirasakan, bukannya dilihat kemudian dihapal.

Sepertinya nada-nada tersebut perlu dirasakan, bukannya dilihat kemudian dihapal.

Dari hari ke hari, hidup saya semakin lebih bernada dan berwarna. Tiada hari tanpa memainkannya. Mungkin ini anugerah dari Tuhan yang bisa digunakan untuk menghibur seseorang yang sedih hatinya.

Keep on picking.

Terlena dengan “Jazz”

Akhir-akhir ini, saya seringkali meluangkan waktu luang dengan melihat layar kaca. Bukan layarnya yang saya lihat, bukan juga kacanya, tapi yang saya lihat adalah para kontestan Indonesian Idol 2014. Saya kagum dengan para calon idola indonesia tersebut, yang sudah mengantri sedemikian panjangnya, tetapi kelihatannya masih tetap semangat saat berada di ruang penjurian. Tapi, ternyata banyak diantara mereka yang masih belum memiliki kesempatan untuk lanjut ke tahap yang berikutnya. Mungkin belum saatnya dan belum waktunya, atau mungkin mereka dapat mencobanya lagi di tahun berikutnya.

Biasanya, saya agak cuek dengan pencarian bakat musik seperti ini. Tetapi, entah kenapa, saya merasa bahwa saya tak boleh ketinggalan lagi acara-acara seperti ini. Saya merasa, lewat para kontestan tersebut, wawasan tentang musik pun bertambah. Ya, walaupun cuma sedikit, tetapi tetap saja ada penambahan. Karena selera masing-masing orang berbeda, oleh karena itu saya menjadi tahu bahwa oh jenis musik itu ternyata enak tohh.

Dari sekian genre musik yang dibawakan, entah kenapa genre jazz lah yang asyik sekali untuk didengarkan. Pas sekali rasanya saat mengalun indah di telinga. Ah, payah sekali memang pengetahuan musik saya, seharusnya saya mengetahui ini sejak dulu. Kan supaya tajam naluri jazz yang ada di dalam diri saya 😀 Lewat para kontestan, saya juga jadi tahu bahwa ada lagu-lagu jazz yang menurut saya keren, diantaranya yaitu Lullaby of Birdland, Kantoi, My Cherie Amour, dan Show Me Missouri Blues.

Berkali-kali juga, salah satu juri, Ahmad Dhani, memberitahukan bahwa musik jazz adalah musik favoritnya. Ia pun memberikan beberapa referensi musisi-musisi jazz yang nge-top. Mendengar hal itu, saya langsung memasang telinga saya. Akhirnya saya mendapatkan beberapa nama penyanyi internasional, sebut saja Ella Fitzgerald, Billie Holiday, Stevie Wonder, dan Frank Sinatra.

Maka dari itu, dari kemarin saya mencoba mencari tahu lagu-lagu yang dibawakan oleh para penyanyi ternama tersebut. Dan ternyata gilaaaa, keren-keren.. Terlena, deh, pokoknya…

Sejak saat itu juga, selain meneliti bahan skripsi, saya juga menyempatkan waktu untuk meneliti musik ini. Saya mencoba menyelaminya sedalam yang saya dapat selami. Terutama instrumen gitarnya.

Haahh.. Memang bikin iri saja, pemusiknya. Jrenggg….