Asyiknya Book Swap

Ini kali kedua saya datang ke acara Festival Pembaca Indonesia. Pada festival ini terdapat satu acara yang cukup menarik menurut saya, yaitu Book Swap. Pernah mendengarnya? Bagi para pecinta buku, kegiatan ini merupakan hal yang wajib hukumnya untuk diikuti. Book Swap ini sangat menarik sekali. Kita diizinkan untuk menukar buku-buku kita dengan buku-buku yang telah disediakan oleh para panitia. Iya, ibaratnya bila kita memiliki buku yang sudah tidak menarik lagi dan kita merasa bosan dengan buku tersebut, kita dapat menukarnya dengan beragam buku yang ada di sana.

Mencari Pengganti. #bookswap
Mencari Pengganti. #bookswap

Saya pun telah menyiapkan semuanya. Saya datang membawa 8 buah buku yang menurut saya layak untuk ditukar, alias buku-buku yang tergolong kurang menarik minat saya (tentunya saya telah selesai membacanya). Ohya maaf ya teruntuk para penulisnya hehe..

Ternyata dugaan saya benar. Saya menemukan banyak buku-buku menarik. Ada novel, buku pengembangan diri, dan buku tentang bisnis pun juga ada. Tanpa pikir panjang, saya langsung menukar buku-buku yang “bagus” tersebut dengan buku-buku lama milik saya. Bahkan, saya juga menemukan beberapa buku yang masih tersampul rapih. Mungkin saja buku tersebut sengaja disiapkan oleh para panitia yang baik hati, atau mungkin juga dari para peserta book swap yang entah kenapa dengan sengaja meletakkannya di sana. 🙂

Namun, bila saya perhatikan, buku-buku yang disediakan pada festival kali ini nampaknya masih kalah “keren” dibandingkan dengan buku-buku yang disediakan pada festival tahun lalu. Ada kemungkinan buku-buku yang menarik tersebut sudah ditukarkan oleh para peserta book swap yang datang lebih dahulu. Hmm, lain kali harus datang lebih pagi, nih. Kalau perlu sambil bantu-bantu panitianya yaa huehee..

Ahh, pokoknya asyik sekali kegiatan Book Swap ini. Sekarang saya jadi punya beberapa buku “baru”, deh, tanpa mengeluarkan uang sedikitpun. Yeahhhh.. 🙂

Masih Muda, Tapi Kok Sudah Berkarya

Hari ini saya mendapatkan banyak sekali inspirasi dari sekumpulan orang. Yang menginspirasi memang bukan seorang bapak ataupun seorang ibu yang sudah merasakan banyak asam manisnya kehidupan. Tapi, kali ini saya diinspirasi oleh sekumpulan anak-anak muda.

Anak-anak muda ini pun bukan anak muda sembarangan. Anak muda ini telah memiliki berbagai macam pengalaman yang belum tentu dimiliki oleh anak-anak lainnya. Bukan hanya itu, berkat karya-karya yang telah mereka buat, mereka juga pernah mendapatkan berbagai macam penghargaan di bidangnya masing-masing.

Padahal masih muda, tapi kok sudah sehebat itu? Apa sih kira-kira resep rahasianya?

Dari keseluruhan pembicara pada acara sharing pengalaman yang saya ikuti, saya melihat satu kesamaan dari mereka semua. Mereka merupakan tipe orang yang sangat gigih dan pantang sekali menyerah. Hanya karena semangat lah, mereka bisa menelurkan karya-karya yang luar biasa hebatnya. Iya sesederhana itu. Karena “semangat” secara ajaib dapat menuntun kita dalam melangkah, yang tadinya kita takut untuk melangkah menjadi yakin seyakin-yakinnya.

Mahisa Ajy dan Baharuddin dari Manglesoft sedang sharing pengalaman
Mahisa Ajy dan Baharuddin (Manglesoft), serta Denmas dan Dennis (Lumachrome) bersiap untuk memberikan sedikit wejangan kepada adik-adik. (Cieilah adik-adik)

Saya, yang notabene “sedikit” lebih tua, pun menjadi malu sekaligus bangga terhadap mereka. Malu karena saya merasa kemampuan mereka jauh lebih terasah dibandingkan dengan saya sendiri pada seumuran mereka. Apa jadinya bila saya tak sesegera berbenah, mungkin saya bisa tertindas oleh mereka-mereka hehehe.. Saya pun juga bangga terhadap mereka. Siapa sih yang tidak bangga bila kita memiliki kawan-kawan yang “membanggakan” di bidangnya? Saya pun bangga, apalagi dengan niat mulia mereka yang mau berbagi pengalaman mereka selama ini. Luar biasa..

Untuk para jiwa-jiwa muda, cobalah untuk memanfaatkan waktu muda kalian dengan sebaik-baiknya. Karena jiwa muda itu adalah jiwa yang biasanya bebas untuk bereksplorasi kesana kemari. Temukanlah apa yang menjadi minat dan keunggulan kalian pada suatu bidang tertentu. Jangan bingung. Karena kuncinya hanya satu, yaitu jangan pernah sekalipun takut untuk mencoba. Pasti kalian akan menemukan jalan kalian sendiri suatu saat nanti. Percayalah.

Juga, jangan pernah takut dengan kritik. Karena kritik itu sifatnya membangun. Jika Anda merasa dijatuhkan dengan kritik-kritik yang diberikan kepada Anda, maka sampai kapanpun Anda tidak akan pernah maju. Jadikan kritik itu sebagai semangat untuk kemajuan Anda.

Sharing acara SITI
Inilah sekumpulan anak muda tersebut.

Teruntuk Manglesoft, Sysfotech, Lumachrome, PinkNoze Studio, Femmous, dan Manda Mila Budi. Kalian semua luar biasa. 🙂

Manglesoft Diundang ke Acara SITI “Kumpul dan share pengalaman bareng!”

Besok, pada tanggal 23 September 2014, Manglesoft diundang untuk berpartisipasi pada kegiatan “Kumpul dan share pengalaman bareng!” yang diadakan oleh komunitas SITI. Acara ini diselenggarakan di kampus Gunadarma Simatupang, yang terletak di Gedung Graha Simatupang, Jakarta Selatan. Manglesoft diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam mendirikan dan menjalani startup.

Komunitas SITI ini sendiri beranggotakan sekumpulan mahasiswa Sarmag Universitas Gunadarma, khususnya jurusan Sistem Informasi dan Teknik Informatika.

manglesoft kumpul dan share pengalaman bareng siti

Pada pertemuan ini juga dihadirkan tim-tim yang telah memiliki pengalaman di bidangnya masing-masing. Tim yang akan hadir adalah Manglesoft, Sysfotech, Lumachrome, Manda Mila Budi, PinkNoze, dan Femmous.

Dengan diadakannya acara seperti ini, saya sendiri berharap agar setiap mahasiswa bisa berkarya sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Karena sayang sekali apabila kuliah hanya diisi dengan hanya duduk manis di dalam kelas dan mendengarkan bapak ibu dosen mengajar. Ingat, kita bisa lebih dari itu. Ilmu-ilmu yang diberikan oleh bapak dan ibu dosen dapat kita manfaatkan sebagai modal awal kita, lalu kemudian melakukan riset lebih lanjut mengenai ilmu-ilm tersebut, dan selanjutnya menciptakan sebuah maha karya dari hasil riset kita tersebut. Apalagi dari karya yang telah kita buat tersebut ternyata bisa bermanfaat bagi orang banyak. Menyenangkan sekali, bukan? 🙂

Oke, sampai jumpa besok. 🙂

Open Source, Pokoknya Tidak Ada Alasan

Ada sedikit perasaan bangga, pada saat saya menghadiri acara “Sasarehan IOSA 2013” kemarin, dan dapat bertemu dengan banyak orang yang memang tertarik dengan dunia Open Source.

Banyak sekali pembicaraan-pembicaraan menarik yang disampaikan oleh para penggiat open source kemarin. Ini belum seberapa. Mungkin, apabila penggiat open source di Indonesia dikumpulkan menjadi satu, pastinya nanti akan lebih menggelegar sekali.

Bapak Aswin Sasongko - IOSA 2013
Bapak Aswin Sasongko menceritakan sedikit tentang Open Source – IOSA 2013

Tetapi, yang masih jadi pertanyaan sampai sekarang ini, yaitu kenapa Open Source masih kalah populer bila dibandingkan dengan perangkat lunak Proprietary?

Sepertinya ini kembali lagi kepada faktor “kebiasaan”. Adaptasi itu sangatlah perlu. Semua orang pasti perlu beradaptasi terhadap sesuatu hal yang baru.

Dahulu, saat Anda belajar komputer dan dikenalkan dengan sistem operasi “jendela”, Anda mungkin merasa kebingungan pada saat itu. Untuk lebih lihai dalam menggunakannya, Anda pun mengeksplorasinya lebih lanjut. Lama kelamaan, tanpa disadari, Anda sudah lebih paham dibandingkan sebelumnya. Awalnya bingung, lama kelamaan pasti lancar juga. Open Source seharusnya juga begitu, kan?

Kemarin, ada yang bertanya begini, “Apa sih alasan untuk tidak menggunakan Open Source?” Ternyata, di luar dugaan ada yang menjawab seperti ini, “Tidak ada alasan.” Benar juga. Memang benar begitu, kan? Untuk membuktikan kecintaan dan ketertarikan kita terhadap sesuatu, pastinya tidak ada alasan. Sama halnya ketika ada seseorang yang bertanya kepada Anda, “Apa sih alasan Anda mencintai kekasih Anda?” Anda, yang saat itu sedang kasmaran tersebut, pasti menjawab, “Tidak ada alasan, pokoknya cinta aja.” Suit-suit. Memang sulit rasanya memisahkan dua insan yang sedang kasmaran tersebut. 😀 Tidak ada alasan juga toh untuk tidak menggunakan produk open source. 🙂

Untuk lebih memasyarakatkan open source kepada orang banyak itu perlu dilakukan sosialisasi. Yang perlu ditekankan, yaitu sejuta kelebihan yang (memang) dimiliki oleh produk Open Source dibandingkan dengan produk Proprietary.

Sudah banyak juga orang di luar sana yang lebih mempercayakan penggunaan IT dengan open source. Termasuk juga di instansi pemerintahan. Tapi, katanya memang masih ada sedikit kendala, karena ada beberapa aplikasi pemerintahan yang tidak bisa dijalankan di sistem operasi Linux, malahan aplikasi tersebut hanya mampu berjalan di sistem operasi “Jendela”. Oleh karena itu, perlu pembuatan aplikasi, dengan fungsi yang sama, yang tentunya juga dapat dijalankan di sistem operasi Linux. Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan penyebaran Open Source di instansi pemerintahan mengalami sedikit kendala. Tetapi, seiring berjalannya waktu, saya yakin masalah ini pasti bisa teratasi dengan baik.

Begitu juga di dunia kampus. Kurikulum di beberapa kampus bahkan sudah mengajarkan untuk menggunakan produk-produk Proprietary. Bahkan, beberapa kampus pun sudah melakukan kerja sama dengan produk-produk proprietary tersebut. Bagaimana solusinya?

Solusi dari ketidak-bisaan masyarakat untuk lepas dari produk Proprietary adalah dibutuhkannya suatu komitmen secara bersama-sama. Ingat, open source itu bisa mendatangkan banyak sekali keuntungan. Kita tidak perlu membeli, membayar, dan mengeluarkan uang banyak hanya untuk suatu perangkat lunak proprietary. Kita dapat mengandalkan open source sebagai alternatif. Dengan begitu, anggaran keuangan bisa dihemat seminimal mungkin, atau bisa dibelanjakan untuk keperluan lainnya yang lebih baik.

Kira-kira seperti itu rangkuman dari hasil pembicaraan yang saya ikuti pada acara “Sarasehan IOSA 2013” kemarin. Pokoknya tidak ada alasan untuk tidak menggunakan produk Open Source. 🙂

Oleh-Oleh dari Konferensi INAICTA 2013 (Day 2)

PADA hari minggu kemarin, saya baru saja mengikuti konferensi INAICTA (Indonesia ICT Award) hari kedua yang diselenggarakan di JCC (Jakarta Convention Center).

Pagi itu, saya datang lebih awal dibanding hari sebelumnya. Mungkin karena saya sudah mengetahui jalan menuju ke tempat tersebut, sehingga saya memacu kendaraan bermotor saya lebih cepat dibanding hari sebelumnya. Tapi, bisa dibilang tidak terlalu cepat juga sih, ya santai lah.

Sesampainya di lokasi, ternyata peserta konferensi masih belum hadir sepenuhnya. Dapat dikatakan masih sedikit sekali yang datang kala itu. Bahkan, booth-booth yang berjejer di dalam pun belum semuanya siap, malahan beberapa diantaranya masih ada yang baru bersiap-siap. FYI, booth yang digelar tersebut adalah milik para nominator yang berhasil lolos audisi saat penjurian lomba yang dikelompokkan ke dalam kategori tertentu. Total kategori berjumlah 21, dan dari tiap masing-masing kategori terdapat 8 nominator. Dapat dibayangkan, bagaimana ramainya acara yang diselenggarakan tersebut.

Berhubung saat itu saya benar-benar “merasa sendiri”, karena belum bertemu dengan orang yang saya kenal, dan merasa “sedikit kesepian”, saya sempatkan saja untuk berkunjung ke beberapa booth yang ada sekaligus menanyakan mahakarya milik para nominator tersebut.

Salah satu booth yang saya kunjungi, yaitu karya anak-anak SMA dari kota Semarang. Nama karyanya yaitu Apasaja, yang merupakan kepanjangan dari “Aplikasi Sastra dan Aksara Jawa”. Unik sekali, bukan? Orang-orang seperti merekalah yang membuat saya menjadi sedikit “iri” terhadap mereka. Terang saja, mereka kan masih SMA dan sudah memiliki karya pula. Sedangkan saya pada saat SMA dahulu ngapain aja, ya? Ah, jadi malu. 🙂 Bahkan, kemarin juga saya bertemu dengan pembimbing mereka dan sempat berbincang-bincang sedikit. Dari pembicaraan tersebut, saya baru tahu, ternyata mereka mendokumentasikan perjalanan mereka, dari Semarang ke Jakarta, dalam bentuk Video. Mereka sepertinya ingin menginspirasi teman-teman mereka, yang satu sekolah dengan mereka, supaya dapat mengikuti jejak langkahnya tersebut. Ah, tanpa sadar malahan saya yang semakin terinspirasi untuk bisa menjadi seperti mereka.

saya bersama tim apasaja
saya bersama tim apasaja

Ruang konferensi pun sudah mulai dibuka. Setelah itu saya masuk ke ruangan tersebut. Seperti pada hari kemarin, sebelum acara dimulai, terlebih dahulu kita dijamu dengan segelintir musik yang dibawakan oleh duo pemusik. Suara pemusik yang satunya memang sangat dahsyat sekali, tapi entah mengapa menurut saya sepertinya ia lebih cocok menjadi pesulap. Pesulap yang berprofesi sebagi pemusik juga tentunya.

Konferensi di hari yang ke-dua ini tak kalah menariknya dibanding kemarin. Kalau kemarin, diantaranya ada Andi S. Boediman, Budiono, Wong Lok Dien, dan Marlin Sugama. Nah, hari ini diantaranya ada Sanny Gaddafi, Gerry Nightspade, Rachmad Imron, Rama Mamuaya, dan Arief Widhiyasa,

Pembicaraan pun masih seputar dunia game. Tentunya gamer-gamer pun semakin antusias mendengarkan setiap topik yang diberikan oleh masing-masing pembicara tersebut. Tahu darimana? Saya saja, yang jarang bermain game, antusias sekali. Bagaimana dengan mereka? =D

Dari keseluruhan pembicara yang tampil, saya tertarik sekali saat mas Arief Widhiyasa, yang merupakan CEO Agate Studio, memberikan presentasinya. Gaya bicaranya memang sedikit khas, terbilang cepat tetapi juga sangat terarah. Namun, untungnya konsentrasi saya saat itu tidak terganggu oleh hal-hal lainnya. Sehingga, saya masih bisa fokus mendengarkan presentasi dari mas Arief tersebut.

Yang paling saya ingat adalah mengenai mental foundation. Waktu itu ia menganalogikan dengan kehidupan rumah tangga yang di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak sebagai pemerannya. Di suatu sore yang cerah, saat itu ayah sedang asyik-asyik membaca koran, kemudian ibu memberikan secangkir kopi hangat kepada suaminya tersebut dan meletakkannya di meja yang terletak di depan suaminya. Kemudian tiba-tiba sang anak, yang sambil bernyanyi riang gembira dan berlari senang, tak sengaja menyentuh kopi ayah tersebut, sehingga cairan kopi tersebut mengenai celana ayahnya. Menurut kalian, apa yang sebaiknya ayah tersebut lakukan? Pasti banyak sekali kemungkinan, bukan? Nah, dari setiap kemungkinan tersebut, kemarin mas Arief memberikan contoh dengan sangat menarik dan kreatif.

Dari setiap kemungkinan tersebut, nantinya juga akan memberikan gambaran mengenai keadaan selanjutnya yang dapat terjadi. Apabila si ayah saat itu marah tentunya berbeda dengan apabila saat itu si ayah tertawa lebar. Nah, dari situlah dapat dikaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari, kalian tinggal pilih, pilih yang cara positif atau cara negatif? 😀

Foto bersama mas Arief Agate
Foto bersama mas Arief Agate

Di akhir acara konferensi, diadakanlah sebuah games seru teruntuk peserta konferensi. Dan didapatlah 15 orang sukarelawan yang berani maju. Setelah itu mereka mendapatkan sebuah tantangan. Apa tantangannya? Haha. Kalian tahu goyang caesar? Tepat sekali. Para sukarelawan tersebut harus bergoyang seolah-olah berperan menjadi caesar seperti pada acara yang ramai di TV itu. Ramai sekali deh pokoknya situasi kala itu. Saya saja, bahkan tak henti-hentinya tertawa menertawakan kegilaan orang-orang tersebut.

Saya sempat mendengar kabar, bahwa penyanyi Raisa akan hadir untuk ikut meramaikan meriahnya acara INAICTA ini. Ternyata kabar tersebut memang benar. Selain acara konferensi, masih ada lagi acara lainnya, yaitu acara puncak dari keseluruhan acara yang sudah berlangsung selama 2 hari tersebut. Beberapa “orang besar” pun turut diundang untuk memeriahkan acara tersebut. Salah satunya, yaitu bapak Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring.

Acara puncak diadakan di ruang yang berbeda dengan ruang konferensi tersebut. Sehabis shalat magrib saya memasuki ruangan. Saya sempat ragu, apakah hanya orang-orang yang diundang saja yang berhak masuk ke ruangan tersebut. Tapi, ternyata siapapun boleh masuk. Ruangannya memang tampak begitu besar, penuh dengan alat-alat canggih di belakang ruangan dan di atas panggung. Panggungnya juga begitu dahsyat dan terlihat megah sekali.

Selain pak Tifatul, kemarin yang menjadi sorotan adalah tak lain dan tak bukan Raisa. Selain parasnya yang cantik, gaun yang dikenakkan juga menambah kesan cantiknya tersebut. Mungkin bisa dibilang lengkaplah acara tersebut.

Raisa di acara puncak INAICTA 2013
Raisa di acara puncak INAICTA 2013

Puas sekali rasanya selama 2 hari ini saya mengikut acara tersebut. Pengetahuan dapat, perbaikan gizi dapat, pemandangan yang “bening-bening” pun juga dapat. Hehe. Apa lagi ya? Semoga saja tahun depan acara INAICTA ini masih akan terus berlanjut. Dan siapa tahu saja saya bisa menjadi nominator di ajang ICT terbesar ini. Aamiin.

Sampai jumpa di tahun berikutnya!

Salam ICT. 🙂