Wisuda Lagi

Wisuda kedua kalinya. Alhamdulillah, terima kasih semuanya. Atas doanya dan atas supportnya.

image

Ini amanah. Apa yang telah saya dapatkan sampai saat ini pasti bukanlah hanya untuk diri saya sendiri. Ini untuk semuanya. Ilmu yang saya pelajari pasti ada pertanggung-jawabannya nanti bila saya tak mengamalkannya.

Banyak pihak yang telah berjasa mengantarkan saya sampai ke titik sekarang ini. Maaf saya belum bisa membalas banyak kepada kalian semuanya.

Btw, sempat pegal juga tadi menunggu panggilan untuk naik ke atas panggung dan bersalaman dengan rektor. Iya apalagi lulusan S2 mendapat kesempatan terakhir naik ke atas panggung sesudah S3, D3, dan S1.

Tapi, tak masalah. Mungkin di situ letak serunya dalam proses wisuda. Menunggu.

Sekarang proses wisuda telah selesai. Saatnya kembali ke realita yang sebenarnya, di mana ujian-ujian kehidupan banyak menghampiri kita.

Yuk, mari kita kembali melanjutkan mimpi menggapai cita. Semangat, guys. 🙂

SMSI-01 Bertemu Kembali

Hari sabtu kemarin, kami dipertemukan kembali. Saya bertemu lagi dengan rekan-rekan seperjuangan yang selama ini telah banyak menorehkan tinta-tinta perjuangan di berbagai tempat. Kenal dan berjuang bersama mereka merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Pertemuan kami pun didasarkan pada satu tujuan, yaitu briefing untuk membahas kelanjutan perjuangan kami. Perjuangan besar kemarin pun telah kami lalui, yaitu sidang thesis. Memang di antara kami masih ada yang belum melaksanan sidang, tapi yang pasti mereka sedang menuju ke sana. Uye, semangat.

SMSI-01 bersama Pak Remi Senjaya
SMSI-01 bersama Pak Remi Senjaya

Blanko wisuda juga dibagikan kemarin. Akhirnya nanti di bulan Oktober, kami siap dilantik dan mengenakan toga kembali.

Yang paling mendebarkan adalah info mengenai kewajiban mengajar. Iya, kami mempunyai kewajiban untuk mengajar di kampus tercinta kami, Universitas Gunadarma. Betapa luar biasanya. Mengenai jadwal mengajar, ternyata masih belum diberikan. Tapi, mau tak mau, kami harus siap untuk menebar ilmu di manapun kami berada. Karena hidup itu adalah proses belajar dan berbagi secara terus menerus. Ya, kan?

Karena hidup itu adalah proses belajar dan berbagi secara terus menerus.

Masih ada waktu untuk mempersiapkan untuk proses belajar mengajar tersebut. Semangat. Sampai ketemu di kelas nanti ya, adik-adik mahasiswiku. Hehe becanda.

20150829171549 (1)

20150829171549 (2)

Mantap, kalian luar biasa.

Dulu Dijaga, Sekarang Menjaga

Dulu saya dan kawan-kawan sekelas yang dijaga, sekarang gantian saya yang menjaga sekelas. Ah, rasanya waktu berputar begitu cepat.

Dulu pada saat saya masih kuliah reguler pada semester 1 dan 2, saya masih merasakan bagaimana rasanya mengerjakan UTS. Waktu keterlambatan dibatasi paling lambat 30 menit sesudah bel berbunyi. Bila lewat dari waktu tersebut, mau tidak mau kita tidak dapat mengikuti ujian tersebut. Serta, ada yang tidak boleh terlupa untuk dibawa, yaitu KRS (Kartu Rencana Studi). Bila KRS tersebut tertinggal di rumah misalnya, maka kita perlu mengurusnya di lantai 1 terlebih dahulu untuk meminta kartu sementara sebagai syarat mengikuti UTS. Bila itu sampai terjadi, hal tersebut sangatlah menyita waktu. Iya, di saat yang lain mulai menggunakan otaknya untuk berpikir dalam menjawab soal-soal UTS, sementara si lupa membawa KRS harus repot mengurus hal yang diurus tersebut.

Dulu dijaga, sekarang menjaga.
Dulu dijaga, sekarang menjaga.

Tidak hanya itu yang perlu dipersiapkan, UTS adalah sebuh ujian. Untuk menghadapi ujian, mau tidak mau sebelumnya kita harus belajar terlebih dahulu agar bisa menaklukan soal-soal UTS tersebut. Iya, pada intinya banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki sebuah ruangan yang biasanya dijaga oleh dua sampai tiga orang pengawas ruangan tersebut.

Dulu saya sempat dibuat bingung. Pengawas yang mengawas ruangan selalu memiliki tampang-tampang yang tergolong muda. Saya ragu apakah mereka-mereka ini dosen atau bukan, tapi kelihatannya mereka belum layak bila dipanggil dengan sebutan bapak atau ibu dosen. Lebih pas bila dipanggil dengan sapaan “Kak”.

Dulu saya sempat berandai-andai menjadi pengawas UTS. Keliatannya kok menyenangkan sekali. Masuk ke dalam ruangan tanpa perlu takut terhadap soal apa yang akan keluar. Asyik-asyik saja kelihatannya. Kerjaannya hanya mengamati ruangan sekitar. Bila timbul diskusi-diskusi ringan dari mahasiswa, entah itu sedang bekerja sama atau hanya sekedar meminjam alat tulis, mereka dapat menegor kapan pun mereka mau. Bila ada yang terlihat membawa sebuah contekan, mereka tinggal melaporkan kejadian pencontekan yang dilakukan oleh mahasiswa A tersebut dengan mencatatnya dalam sebuah BAP. Menyenangkan, bukan?

Dulu dijaga, sekarang menjaga

Entah kenapa, saya merasa apa yang tanpa sengaja saya celotehkan, dengan berharap suatu saat nanti dapat mengawas jalannya ujian dan lain sebagainya, mulai terkabul perlahan. Pada UTS kali ini, yang selalu diadakan di perkuliahan reguler, saya dipercayakan untuk ikut mengawas. Sebenarnya bukan dipercaya, tapi waktu itu saya mendaftar lebih tepatnya minta tolong didaftarkan hehe. Berhubung saya juga menjabat sebagai asisten laboratorium sistem informasi di kampus saya dan saya juga telah lulus untuk jenjang S1, maka saya diperbolehkan untuk ikut mengawas. Karena setahu saya yang diperbolehkan mengawas UTS adalah dosen dan para asisten lab yang memenuhi syarat tertentu. Dengan rasa keingintahuan saya yang cukup tinggi, saya berniat untuk mencobanya.

Hari ini adalah hari kedua saya dalam mengawas UTS. Harusnya bila saya menjadi pengawas yang rajin, sampai hari ini saya sudah mengawas sebanyak 6 hari. Bukan berarti saya dengan sengaja meninggalkan tanggung jawab, karena memang perkuliahan saya belum selesai. Tetap, saya memiliki sebuah prioritas, kuliah saya lah yang utama di atas segala-galanya. Mau tidak mau saya harus izin mengawas UTS.

Mengawas UTS merupakan hal yang paling santai menurut saya. Pertama, kita memang disibukkan dengan membagikan soal-soal kepada para mahasiswa. Lalu kemudian berkeliling lagi untuk meminta tanda tangan mahasiswa sembari mengecek KRS yang mereka bawa. Sudah. Lalu setelah itu, yang dapat saya lakukan adalah diam santai di sudut ruangan. Maka dari itu, sesuatu hal yang sekiranya bermanfaat dapat dilakukan pada saat-saat ini. Seperti tadi, saya malah dapat menyicil mengerjakan tugas kuliah.

Jaga UTS, tapi nyambi nugas
Jaga UTS, tapi nyambi nugas

Selain itu, saya juga dapat berkenalan dengan orang-orang baru yang belum saya kenal sebelumnya. Ada dosen dan ada juga asisten laboratorium dari jurusan lain. Karena memang dalam mengawas UTS biasanya dipasangkan oleh para koordinator, jadinya terkadang saya dipasangkan mengawas dengan orang-orang yang tampak asing bagi saya. Haha begitu juga saya yang dianggap asing bagi mereka.

Sejauh ini, sih, menyenangkan. Hitung-hitung menambah pengalaman. 🙂

Oke, adik-adik mahasiswa Gunadarma yang mungkin saja membaca tulisan ini, siap-siap diawas oleh kakak yang baik hati ini ya. Hehe 🙂

Apalah Arti Sebuah Nama

Shakespeare pernah mengatakan, “Apalah arti sebuah nama?” Mawar tetaplah mawar walau kau panggil dengan sebutan apapun. Wanginya akan tetap harum semerbak.

Cerita ini berawal dari pengalaman bertugas saya pada hari minggu kemarin. Sampai saat ini, saya memang masih bertugas menjadi Asisten Laboratorium Sistem Informasi di Kampus Gunadarma Kalimalang. Pada hari minggu kemarin, saya mengemban tugas menjadi ketua asisten selama seharian penuh dari shift pertama sampai terakhir di salah satu ruangan lab.

Ketika praktikum sedang berlangsung, teman se-ruangan saya pun mulai memberi-tahukan kejadian unik di sini. FYI, nama lengkap saya adalah Mahisa Ajy Kusuma. Namun, apa yang para praktikan tulis pada laporan praktikumnya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Pada bagian “Ketua Asisten”, nama saya berubah (mungkin) tergantung selera para praktikan tersebut. Ada yang menulis “Mahisa Azy”, “Mahisa Aly”, dan lain sebagainya.

Saya sendiri tertawa melihat fenomena ini. Kenapa ini bisa terjadi? Apa karena nama saya yang tergolong unik bila pertama kali didengarkan, sehingga menyebabkan munculnya beberapa varian dari nama saya tersebut. Ah, saya juga bingung. Padahal saya merasa bahwa saya sudah menjelaskannya dengan begitu jelas pada pertemuan yang pertama.

Bahkan, ada lagi yang lebih lucu. Di shift terakhir praktikum, lagi-lagi ada yang menuliskan nama lain. Kali ini lebih aneh. “Mahita Ajy”. Ah, cantik sekali, bukan? Seketika itu saya langsung merasa cantik bila dipanggil dengan nama itu. 😀

apalah arti sebuah nama
Keren juga

Dalam karyanya, “Romeo and Juliet”, Shakespeare pernah mengatakan,

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;

Iya, perumpamaannya bunga mawar. Kau tahu bunga mawar, kan? Jikalau bunga mawar tersebut kita panggil dengan sebutan lain, bukankah wanginya tetap wangi mawar yang harum semerbak itu?

Walau saya dipanggil dengan sebutan apapun, ya saya akan tetap menjadi seorang Mahisa Ajy Kusuma dengan segala kelebihan dan kekurangan yang saya miliki. Tidak lebih dan tidak kurang. 🙂

Wajah-Wajah Baru

Waktu terus berlalu. Semakin jauh waktu yang kita tempuh, maka akan tiba masanya kita bertemu dengan wajah-wajah yang sangat asing sekali. Merekalah pemilik wajah-wajah baru, penerus kita. Mereka mungkin akan menggantikan peran-peran kita. Sementara kita mulai berfokus untuk menempuh jalan kita masing-masing.

Generasi yang baru pun telah datang. Banyak sekali dari mereka semua yang belum saya kenal. Walaupun beberapa di antaranya sudah saya kenal, tapi hanya sebatas itu. Ya, bisa diibaratkan antara guru dengan muridnya.. Ah, sepertinya tidak , lebih tepatnya antara pembagi ilmu dan penerima ilmu.

Asisten Baru Lab Sistem Informasi 2014 PTA
Asisten Baru Lab Sistem Informasi 2014 PTA

Wajah-wajah baru mulai berkumpul. Maka tak lama kemudian akan muncullah kisah-kisah baru di dalamnya. Kisah-kisah yang tercipta dari sekumpulan anak yang penuh semangat dan memiliki mimpi-mimpi yang sangat tinggi. Ah, saya pun rindu sekali ketika menjadi seperti mereka.

Saya rindu dengan rasa penasaran. Rasa penasaran yang begitu memuncak pada malam-malam sebelum keesokan harinya beraksi. Beraksi di salah satu ruangan yang sedikit memacu adrenalin. Namun, tergantung bagaimana sikap kita dalam menyikapinya. Seorang pemenang pasti sudah tahu bahwa ia akan menang. Ia siap dengan segalanya yang akan terjadi. “Kan sudah pasti menang. Jadi, gak usah takut,” begitulah pikir seorang pemenang.

Saya juga rindu dengan suatu lingkungan yang baru. Uniknya, kita semua bersamaan menyembunyikan sikap kita yang sebenarnya, sembari berharap orang lain akan menganggap kita sebagai pribadi yang tenang dan berwibawa. Orang-orang mengenalnya dengan istilah JAIM (Jaga Image). 😀

Lagi-lagi saya rindu. Saya rindu dengan semuanya. Semua rekan-rekan seperjuangan yang dulu sama-sama berjuang mulai dari 0, hingga sekarang menjadi 0.1 🙂 . Sekarang semuanya mulai meniti jalan mereka masing-masing. Bahkan ada yang sudah mulai berjalan jauh di depan. Tapi, untungnya mereka masih sempat hadir di sekeliling kami-kami semua. Memberi semangat kepada semuanya tentang segala pengalaman yang telah mereka lalui.

Asisten Lab Sistem Informasi 2014
Asisten Lab Sistem Informasi 2014

Hei, wajah-wajah baru, torehkan kisah-kisah baru yang menarik, berharga, dan berkesan yang mungkin akan dikenang oleh wajah-wajah baru lainnya. Hadapilah dan nikmatilah. Dan jangan sungkan untuk bertanya 🙂