Pinterest Bikin Pinter

Saat pertama kali mendengar kata Pinterest, saya sempat berpikiran bahwa Pinterest merupakan suatu merek dagang yang berasal dari Indonesia. Mungkin karena terdapat kata pinter dalam Pinterest tersebut. Namun, ternyata tebakan saya salah. Kala itu, saya baru tahu, bahwa Pinterest ini merupakan salah satu jejaring sosial yang sedang digandrungi oleh anak muda masa kini, ya semisal Facebook dan Twitter lah.

Awalnya juga saya berpikiran bahwa Pinterest dapat membuat para penggunanya menjadi “pinter”. Lho iya, karena Jadi orang pinter kan enak toh, bisa minter-minterin orang. Hehe. Tetapi saat saya mulai mencoba jejaring sosial Pinterest ini kelihatannya ada benarnya juga. Melalui Pinterest kita dapat menemukan banyak sekali gambar-gambar yang menginspirasi, misalnya saja quotes-qutes tertentu yang tiba-tiba saja langsung membuat darah saya semakin mendidih, mungkin karena terlalu bersemangat menatap gambar berisi quotes tersebut.

Saat pertama kali menggunakannya, saya langsung disajikan beberapa gambar-gambar menarik mengenai bermacam-macam topik. Hampir semua topik ada di Pinterest. Pinterest juga memiliki beberapa fitur yang berbeda dengan jejaring sosial lainnya, diantaranya fitur board dan fitur pin.

Fitur board ini ibaratnya adalah papan kreatif milik kita, dan kita sendiri pun bebas mau meletakkan gambar apa saja untuk diletakkan di papan tersebut. Papan tersebut juga berguna untuk mengelompokkan gambar-gambar yang memiliki tema yang sama. Contohnya saja saya telah membuat board-board semisal board writing dan board music. Berarti sesuatu hal yang berhubungan dengan menulis akan saya letakkan di board writing, begitu juga dengan sesuatu yang berhubungan dengan musik akan saya letakkan di papan music tentunya. Hehe.

Kalau fitur pin?

Nah, fitur pin adalah proses “penempelan” gambar-gambar tersebut ke dalam board.

Pinterest Mahisa Ajy

Pinterest Mahisa Ajy

Cukup asyik juga bermain-main dengan Pinterest ini. Kita hanya perlu menentukan tema-tema yang menarik, kalau masih belum menemukan, kalian cukup scroll terus saja ke bawah terus menerus. Inilah yang terkadang membuat penggunanya menjadi ketagihan, seperti halnya kita melakukan scroll lini masa (timeline) di Facebook dan Twitter, yang selalu membuat kita lupa waktu, hal ini berlaku juga di Pinterest. Apabila sudah menemukan gambar yang menarik, selanjut tinggal melakukan pin saja deh dan tentukan board mana yang akan digunakan. Ulangi saja proses tersebut, dijamin pasti tak ada habisnya, bahkan bisa saja sampai membuat lupa waktu.

Inilah letak kelebihan Pinterest. Karena pada umumnya, manusia lebih mudah mengingat gambar daripada tulisan. The Power of Image, men! Ide-ide pun juga pasti akan mengalir deras disini melalui gambar yang disajikan.

Tak afdol rasanya apabila tidak mempromosikan akun Pinterest. Mari berteman 🙂

Follow Me on Pinterest

Kunci yang Hilang, Datang dan Kembali

PAGI ini, seperti biasa mentari bersinar menyejukkan hati, namun sayangnya saya hanya bisa menikmati suasana menarik itu sejenak. Saya seketika itu terbangun untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat, setelah itu saya kembali melanjutkan mimpi indah di tempat yang terbilang nyaman. Di ruangan yang tertutup rapat oleh pintu-pintu dunia.

Saya bermimpi, tetapi seperti tidak bermimpi. Saya sepertinya melakukan sesuatu di dalam mimpi, tetapi saat terbangun saya melupakan semuanya. Entah bagaimana ceritanya. Saya tertidur sangat pulas sekali, seakan-akan saya mengabaikan waktu yang telah berjalan begitu jauhnya meninggalkan saya.

Saya segera bersiap untuk menyelesaikan suatu urusan di kampus. Saat di jalanan, saya memacu kendaraan begitu liarnya. Biar liar, namun tetap terlihat sabar.

Sesampainya di kampus, tiba-tiba saya menyadari suatu hal.

“Kunci motor saya dimana?”

Saya hanya sanggup berkata di dalam hati. Karena memang disitu tak ada satu orang pun yang saya kenal. Mungkin mereka curiga dengan gerak-gerik saya, yang memang terlihat sedikit mencurigakan itu.

Siapakah pelaku yang menghilangkan kunci motor milik saya? Mungkinkah polisi berkumis tebal pelakunya? Tetapi tadi saat saya bertemu di jalan dan melintas di hadapannya, ia hanya tersenyum manis. Tidak tampaklah suatu yang mencurigakan di senyum polisi  tersebut. Sepertinya bukan dia pelakunya.

Mungkinkah wanita jalanan yang menjadi pelakunya? Tetapi tadi ia hanya melambai-lambaikan tangan saja sembari tersenyum sangat manis. Sepertinya juga bukan dia pelakunya. Lalu siapa?

Saya coba untuk mengingat-ingat kembali sepercik kenangan di jalanan yang tadi saya lalui. Saya pun merasa kebingungan sendiri. Saya putuskan untuk menyusuri kembali jalan-jalan tersebut.

Kali ini, saya memasang mata lebih sigap dari biasanya. Saya terus melirik ke sisi lain jalanan. Tak ingin saya melewatkan satu benda terjatuh pun yang berada di jalanan. Dari jalan satu ke jalan satunya, ternyata masih belum membuahkan hasil. Saya belum menyerah, saya coba terus mencari.

Sampailah saya di perempatan jalan besar. Saya bimbang. Haruskah saya pergi meninggalkan kampus lebih jauh lagi? Akhirnya saya putuskan untuk kembali. Mungkin saja di jalan yang hendak saya lalui ini menyimpan tanda-tanda keberadaan benda yang sedang saya cari ini.

Saya berjalan pelan. Lebih pelan dari biasanya. Tidak liar lagi, tetapi kalem dan adem, walaupun berada di bawah panas matahari yang sedang meronta-ronta itu.

Saya sempat berdoa sedikit kepada Tuhan untuk meminta jawaban. Bagaikan dihadapkan pada buah simalakama, saya bimbang harus melakukan apa.

Saya lanjutkan lagi perjalanan. Tiba-tiba benda yang saya cari itu muncul di hadapan saya. Saya menepi untuk berhenti. Kendaraan, yang masih tetap menyala tanpa adanya kunci tersebut, saya biarkan begitu saja. Saya coba mendekat kepada benda tersebut di jalanan. Beruntung, jalanan tidak begitu ramai, sehingga tidak menyulitkan usaha saya tersebut.

Saat itu saya senang, tapi belum merasa tenang. Sepertinya ada yang aneh dengan benda yang saya temukan tersebut. Yang saat ini saya genggam bukanlah benda yang saya cari, melainkan temannya, hanya sebuah gantungan kunci. Kemana perginya kunci tersebut? Ataukah hilang ditelan buasnya penghuni jalan, atau disembunyikan oleh si polisi berkumis tebal dan si wanita jalanan tersebut? Saya terdiam dengan keadaan yang seperti itu.

Tiba-tiba, di sisi jalan terdengar suara.

“Mas, lagi nyari apa? Nyari kunci, ya?”

Seketika itu, muncul setitik harapan di dalam diri saya. Senyum sumringah saya keluar begitu saja. Benda yang sedaritadi saya cari itu ternyata berada dalam genggaman seseorang yang mengeluarkan suara di sisi jalan tersebut.

Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada seseorang tersebut. Sepertinya Tuhan mendengar doa kecil saya tadi, sehingga Ia memberikan setitik keajaiban kecilnya kepada saya.

Orang tersebut juga sepertinya sengaja membiarkan gantungan kunci milik saya terkapar sendirian di jalanan. Mungkin sebagai tanda keberadaan yang ditujukan kepada pemilik kunci tersebut. Sehingga saya pun dapat menemukan benda yang hilang tersebut.

Sebuah pelajaran yang terlihat sepele, namun terasa sangat berharga. Kunci yang hilang, ternyata datang dan kembali. Terimakasih.

Mahasiswa Komputer Menulis Puisi. Apa Salahnya?

Perkenalkan, kami adalah sekumpulan mahasiswa komputer. Banyak mahasiswa di jurusan lain yang mengatakan bahwa kami jarang sekali bergaul. Mereka juga mengatakan bahwa kami hanya memiliki satu orang teman saja, yaitu komputer. Apakah benar begitu adanya? Kami tentunya memiliki banyak sekali kawan. Tetapi tak bisa saya sebutkan semuanya disini. Mungkin beberapa diantaranya adalah tetikus dan papan ketik.

Baru-baru ini juga kami memiliki sebuah teman baru. Namanya “kata”. Dari kata dapat terbentuklah sebuah kalimat, artikel, puisi, dan lain sebagainya.

Puisi. Ya, puisi merupakan sekumpulan kata-kata indah yang terkumpul menjadi satu. Kami sangat menyukai sekali puisi. Mahasiswa komputer menulis puisi, anehkah? Memangnya hanya mahasiswa sastra saja yang diperbolehkan. Lantas, kami-kami ini, yang menyandang predikat sebagai mahasiswa komputer, tidak diperbolehkan?

Sebenarnya kami sama seperti kalian semua. Kami tergolong manusia yang suka sekali dengan sesuatu yang bertema keindahan, kecantikan, dan kesempurnaan. Walaupun kami tahu kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, tetapi kami menganggap sesuatu hal, yang mungkin saja apabila dilihat secara kasat mata memiliki banyak kekurangan, pastinya merupakan bentuk yang paling sempurna, yang semuanya itu merupakan anugerah dari Tuhan. Semua menjadi terlihat sempurna.

Kami menyukai kata. Apalagi kata yang tersusun sedemikian rupa. Ataupun kata yang memiliki sesuatu kekuatan. Orang luar disana mengenalnya dengan sebutan “The Power of Words”.

Kami hanya ingin bermain dengan beberapa dari banyaknya kata yang ada tersebut. Kami biarkan saja kata-kata tersebut mengalir seperti air. Kami biarkan terjatuh dan terkumpul menjadi satu di suatu lautan kata. Selanjutnya kami hanya perlu menyelami lautan tersebut. Merasakan dinginnya, amarahnya, asinnya, dan sucinya kata-kata yang telah bersatu padu tersebut. Semakin dalam maka semakin terhanyut. Entahlah, lama kelamaan mungkin kami akan menjadi manusia penghuni lautan kata.

Bukannya kami jenuh dengan kode-kode program yang selalu berada di dekat kami. Kami hanya ingin bersenang-senang dengan teman baru kami. Tidak ada lagi aturan penulisan yang selalu mengikat kami seperti pada saat kami bermain-main dengan kode program. Kami ingin merasakan kebebasan, dengan menyusun kata demi kata secara bebas. Juga tak terikat. Tidak ada yang mengatur dan membatasi. Kami ingin menuliskan semuanya dan tenggelam lebih jauh bersama kata-kata yang ada.

Manusia komputer menulis puisi. Apa salahnya?

Oleh-Oleh dari Konferensi INAICTA 2013 (Day 2)

PADA hari minggu kemarin, saya baru saja mengikuti konferensi INAICTA (Indonesia ICT Award) hari kedua yang diselenggarakan di JCC (Jakarta Convention Center).

Pagi itu, saya datang lebih awal dibanding hari sebelumnya. Mungkin karena saya sudah mengetahui jalan menuju ke tempat tersebut, sehingga saya memacu kendaraan bermotor saya lebih cepat dibanding hari sebelumnya. Tapi, bisa dibilang tidak terlalu cepat juga sih, ya santai lah.

Sesampainya di lokasi, ternyata peserta konferensi masih belum hadir sepenuhnya. Dapat dikatakan masih sedikit sekali yang datang kala itu. Bahkan, booth-booth yang berjejer di dalam pun belum semuanya siap, malahan beberapa diantaranya masih ada yang baru bersiap-siap. FYI, booth yang digelar tersebut adalah milik para nominator yang berhasil lolos audisi saat penjurian lomba yang dikelompokkan ke dalam kategori tertentu. Total kategori berjumlah 21, dan dari tiap masing-masing kategori terdapat 8 nominator. Dapat dibayangkan, bagaimana ramainya acara yang diselenggarakan tersebut.

Berhubung saat itu saya benar-benar “merasa sendiri”, karena belum bertemu dengan orang yang saya kenal, dan merasa “sedikit kesepian”, saya sempatkan saja untuk berkunjung ke beberapa booth yang ada sekaligus menanyakan mahakarya milik para nominator tersebut.

Salah satu booth yang saya kunjungi, yaitu karya anak-anak SMA dari kota Semarang. Nama karyanya yaitu Apasaja, yang merupakan kepanjangan dari “Aplikasi Sastra dan Aksara Jawa”. Unik sekali, bukan? Orang-orang seperti merekalah yang membuat saya menjadi sedikit “iri” terhadap mereka. Terang saja, mereka kan masih SMA dan sudah memiliki karya pula. Sedangkan saya pada saat SMA dahulu ngapain aja, ya? Ah, jadi malu. 🙂 Bahkan, kemarin juga saya bertemu dengan pembimbing mereka dan sempat berbincang-bincang sedikit. Dari pembicaraan tersebut, saya baru tahu, ternyata mereka mendokumentasikan perjalanan mereka, dari Semarang ke Jakarta, dalam bentuk Video. Mereka sepertinya ingin menginspirasi teman-teman mereka, yang satu sekolah dengan mereka, supaya dapat mengikuti jejak langkahnya tersebut. Ah, tanpa sadar malahan saya yang semakin terinspirasi untuk bisa menjadi seperti mereka.

saya bersama tim apasaja

saya bersama tim apasaja

Ruang konferensi pun sudah mulai dibuka. Setelah itu saya masuk ke ruangan tersebut. Seperti pada hari kemarin, sebelum acara dimulai, terlebih dahulu kita dijamu dengan segelintir musik yang dibawakan oleh duo pemusik. Suara pemusik yang satunya memang sangat dahsyat sekali, tapi entah mengapa menurut saya sepertinya ia lebih cocok menjadi pesulap. Pesulap yang berprofesi sebagi pemusik juga tentunya.

Konferensi di hari yang ke-dua ini tak kalah menariknya dibanding kemarin. Kalau kemarin, diantaranya ada Andi S. Boediman, Budiono, Wong Lok Dien, dan Marlin Sugama. Nah, hari ini diantaranya ada Sanny Gaddafi, Gerry Nightspade, Rachmad Imron, Rama Mamuaya, dan Arief Widhiyasa,

Pembicaraan pun masih seputar dunia game. Tentunya gamer-gamer pun semakin antusias mendengarkan setiap topik yang diberikan oleh masing-masing pembicara tersebut. Tahu darimana? Saya saja, yang jarang bermain game, antusias sekali. Bagaimana dengan mereka? =D

Dari keseluruhan pembicara yang tampil, saya tertarik sekali saat mas Arief Widhiyasa, yang merupakan CEO Agate Studio, memberikan presentasinya. Gaya bicaranya memang sedikit khas, terbilang cepat tetapi juga sangat terarah. Namun, untungnya konsentrasi saya saat itu tidak terganggu oleh hal-hal lainnya. Sehingga, saya masih bisa fokus mendengarkan presentasi dari mas Arief tersebut.

Yang paling saya ingat adalah mengenai mental foundation. Waktu itu ia menganalogikan dengan kehidupan rumah tangga yang di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak sebagai pemerannya. Di suatu sore yang cerah, saat itu ayah sedang asyik-asyik membaca koran, kemudian ibu memberikan secangkir kopi hangat kepada suaminya tersebut dan meletakkannya di meja yang terletak di depan suaminya. Kemudian tiba-tiba sang anak, yang sambil bernyanyi riang gembira dan berlari senang, tak sengaja menyentuh kopi ayah tersebut, sehingga cairan kopi tersebut mengenai celana ayahnya. Menurut kalian, apa yang sebaiknya ayah tersebut lakukan? Pasti banyak sekali kemungkinan, bukan? Nah, dari setiap kemungkinan tersebut, kemarin mas Arief memberikan contoh dengan sangat menarik dan kreatif.

Dari setiap kemungkinan tersebut, nantinya juga akan memberikan gambaran mengenai keadaan selanjutnya yang dapat terjadi. Apabila si ayah saat itu marah tentunya berbeda dengan apabila saat itu si ayah tertawa lebar. Nah, dari situlah dapat dikaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari, kalian tinggal pilih, pilih yang cara positif atau cara negatif? 😀

Foto bersama mas Arief Agate

Foto bersama mas Arief Agate

Di akhir acara konferensi, diadakanlah sebuah games seru teruntuk peserta konferensi. Dan didapatlah 15 orang sukarelawan yang berani maju. Setelah itu mereka mendapatkan sebuah tantangan. Apa tantangannya? Haha. Kalian tahu goyang caesar? Tepat sekali. Para sukarelawan tersebut harus bergoyang seolah-olah berperan menjadi caesar seperti pada acara yang ramai di TV itu. Ramai sekali deh pokoknya situasi kala itu. Saya saja, bahkan tak henti-hentinya tertawa menertawakan kegilaan orang-orang tersebut.

Saya sempat mendengar kabar, bahwa penyanyi Raisa akan hadir untuk ikut meramaikan meriahnya acara INAICTA ini. Ternyata kabar tersebut memang benar. Selain acara konferensi, masih ada lagi acara lainnya, yaitu acara puncak dari keseluruhan acara yang sudah berlangsung selama 2 hari tersebut. Beberapa “orang besar” pun turut diundang untuk memeriahkan acara tersebut. Salah satunya, yaitu bapak Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring.

Acara puncak diadakan di ruang yang berbeda dengan ruang konferensi tersebut. Sehabis shalat magrib saya memasuki ruangan. Saya sempat ragu, apakah hanya orang-orang yang diundang saja yang berhak masuk ke ruangan tersebut. Tapi, ternyata siapapun boleh masuk. Ruangannya memang tampak begitu besar, penuh dengan alat-alat canggih di belakang ruangan dan di atas panggung. Panggungnya juga begitu dahsyat dan terlihat megah sekali.

Selain pak Tifatul, kemarin yang menjadi sorotan adalah tak lain dan tak bukan Raisa. Selain parasnya yang cantik, gaun yang dikenakkan juga menambah kesan cantiknya tersebut. Mungkin bisa dibilang lengkaplah acara tersebut.

Raisa di acara puncak INAICTA 2013

Raisa di acara puncak INAICTA 2013

Puas sekali rasanya selama 2 hari ini saya mengikut acara tersebut. Pengetahuan dapat, perbaikan gizi dapat, pemandangan yang “bening-bening” pun juga dapat. Hehe. Apa lagi ya? Semoga saja tahun depan acara INAICTA ini masih akan terus berlanjut. Dan siapa tahu saja saya bisa menjadi nominator di ajang ICT terbesar ini. Aamiin.

Sampai jumpa di tahun berikutnya!

Salam ICT. 🙂

Entahlah

Saya lelah.

Namun, hati kecil saya selalu mengatakan supaya jangan pernah menyerah.

Apa yang seharusnya saya lakukan? Berserah?

Percuma saja kali ini saya mengenakan pakaian berwarna merah.

Tanpa kerah.

Merah itu kan artinya berani, juga di dalam kamus saya tak ada itu kata menyerah.

Saya menulis ini bukannya untuk berkeluh-kesah.

Apalagi marah.

Bukan juga untuk memperparah.

Melainkan hanya mencari celah.

Dari sempitnya jalan pikiran yang saat ini sedang melaju tanpa arah.

Saya mencoba untuk tabah.

Mencoba untuk selalu membuat senyum menjadi murah.

Tanpa sadar, mereka semua telah menciptakan kisah.

Kisah kasih kita yang belum sepenuhnya terjamah.

Oleh dua insan yang sama-sama tak mau mengalah.

Saya hanya dapat terdiam, terjatuh, dan seperti batang pohon yang mematah.

Yang saya sendiri lupa untuk memberikan sebuah sanggah.

Mau dibawa kemana lagi kisah ini, entahlah.

Oleh-Oleh dari Konferensi INAICTA 2013 (Day 1)

KEMARIN, saya baru saja mengikuti konferensi INAICTA 2013 di JCC (Jakarta Convention Center). Untuk kalian yang belum mengetahui apa itu INAICTA, INAICTA adalah ajang lomba karya cipta kreativitas dan inovasi di bidang TIK terbesar di Indonesia. Terbesar di Indonesia? Sepertinya memang begitu adanya.

inaicta a nation of possibilities

A Nation of Possibilities

Tema INAICTA kali ini, yaitu mengenai GAME. Para pembicara pun membahas seluk beluk mengenai Game beserta peluang yang dapat dihasilkan melalui sebuah permainan tersebut.

Topik-topik yang disampaikan oleh para pembicara sangat menarik sekali. Saya, yang saat itu datang dengan kapasitas sebagai peserta konferensi, hanya dapat diam sembari memasang telinga dan terus mendengarkan setiap informasi yang mengalir begitu cepat. Entah kapan saya bisa menjadi seperti salah satu pembicara kemarin. Mungkin suatu saat nanti ya.

Di salah satu sesi, saya juga sempat mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh si pembicara. Pertanyaannya yaitu seputar Sustainable Game Industry. Entah ada angin apa, saya tergerak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin karena sedang beruntung, akhirnya jawaban yang saya lontarkan ternyata memikat si pembicara tersebut. Alhasil, saya berhak mendapatkan hadiah dari panitia acara tersebut. Lumayan juga ya.

Ohya, berikut ini ada sedikit oleh-oleh yang dapat saya bagikan kepada teman-teman semuanya.

foto bersama para pembicara INAICTA 2013

foto bersama para pembicara INAICTA 2013

foto bersama siapa ini ya

foto bersama siapa ini ya

Di pagi hari yang cerah ini, saya juga hendak bersiap-siap (lagi) untuk datang ke konferensi INAICTA tersebut. Karena acara ini memang diselenggarakan selama 2 hari. Bye-bye sampai bertemu disana, teman-teman.