Sedikit Kendala Python, Percabangan Proses, serta Waktu Tunggu

Apa kabar suasana pagi di hari rabu yang cerah ini? Semoga saja engkau selalu menebarkan keceriaan di tengah-tengah padatnya aktifitas yang nantinya akan dijalani oleh banyak orang, termasuk saya.

Pagi ini, saya masih berkutat dengan tugas pemrograman dengan menggunakan konsep client server. Saya mencoba beralih menggunakan bahasa pemrograman Python. Alasannya sederhana. Ya, sesederhana bahasa pemrograman yang saya gunakan. Katanya..

Mengenai konsep Client serta Server pun sudah saya mengerti secara garis besarnya. Namun, implementasi ke dalam programnya lah yang menimbulkan sedikit masalah. Masalah yang sedaritadi saya hadapi, yaitu mengenai proses percabangan serta waktu tunggu oleh Server.

Bagaimana caranya agar Server dapat menjalankan proses lainnya setelah memastikan bahwa tidak ada interaksi dari user selama waktu yang telah ditentukan? Sederhananya sih, saya ingin membuat Server tersebut seolah-olah tidak menunggu terlalu lama. Kalau menurut Band Gigi dalam lagunya yang berjudul Ya Ya Ya, “Menunggu itu bosan. Bosan yang memusingkanku.” Ada benernya juga..

Padahal saya sudah mencoba beberapa perintah dalam Python, seperti time.sleep(20) dan sys.exit(0). Tetapi itu rasanya belum cukup.

Bagaimana ya solusinya? Semoga saja selalu ada pencerahan di tengah gelap dan minimnya pengetahuan yang saya miliki. Mungkin saja Sang Surya dengan baik hati memberikan setitik cahayanya untuk saya. Semoga..

Berbuka dengan Takjil Gratis di Jalan

TIDAK terasa ya, bulan Ramadhan sudah akan memasuki 10 hari terkahir. Perasaan baru saja kemarin kita mulai menjalani puasa, dan dalam hitungan beberapa hari ke depan, kita sudah akan meninggalkan bulan suci ini. Setelah itu menyambut hari raya Idul Fitri di bulan yang baru.

Menjelang waktu berbuka puasa, biasanya jalanan menjadi ramai sekali. Hampir setiap sudut jalanan dipenuhi oleh para pengendara motor dan mobil yang seakan-akan berlomba-lomba untuk mencapai rumahnya masing-masing. Mungkin hampir semuanya beranggapan, “Siapa cepat, dialah pemenangnya.” Itulah sebabnya banyak pengendara yang ingin menjadi pemenang, dan tidak mau kalah dalam petualangannya di jalan.

Beberapa dari pengendara tersebut, diantaranya juga ada yang sedang NGABUBURIT. Mereka berkeliaran di jalanan sembari menunggu waktu berbuka.Biasanya mereka berkendara sambil tertawa ria dengan teman-temannya. Apalagi jika ada gadis cantik yang mereka temui di jalan, saat itu juga siulan mereka tiba-tiba saja keluar langsung dari mulut mereka. Wah, seru dehhh. Cikiciwww. 😀

Ngomong-ngomong mengenai suasana di jalanan saat bulan Ramadhan. Sore tadi, saya mendapatkah suatu berkah saat sedang mengarungi perjalanan pulang dari kampus.

Jalan yang saya lalui tadi bisa dibilang sangat padat sekali. Motor dimana-mana, mobil dimana-mana, dan angkot juga ngetem dimana-mana. Saya beranggapan bahwa bukan hal yang aneh kemacetan yang saya temui tersebut. Karena memang tadi sore saya pulang agak telat dari kampus.

Saya bersabar di tengah-tengah kerumuman para pengendara jalanan. Jalan sedikit-sedikit pun sudah Alhamdulillah. Akhirnya, lama-kelamaan kendaraan saya pun sudah jauh berpindah dibandingkan dengan posisi sebelumnya. Setelah saya berada jauh di depan, saya mulai mengetahui penyebab kemacetan tersebut. Ternyata kemacetan tersebut disebabkan oleh pembagian takjil gratis di jalanan.

Para pengendara berusaha mengantri untuk mendapatkan takjil tersebut. Ibaratnya, sebuah rezeki disaat detik-detik menjelang berbuka puasa. Melihat keadaan tersebut, saya pun menjadi tergoda untuk mendapatkannya. Saya yang saat itu sedang berada di tengah-tengah jalan, mencoba merapat ke sisi kiri jalan, dan akhirnyaaa. TASSS. Tiba-tiba salah satu dari sekian banyak takjil tersebut sudah berpindah ke dalam genggaman tangan saya. Hehehe.

Padahal sebelumnya, baru saja saya membicarakan dengan teman kampus, yang seringkali mendapatkan takjil gratis di jalanan. Eh, tanpa disangka, ternyata hal tersebut terjadi juga kepada saya.

Tak lama kemudian, adzan magrib pun berkumandang. Akhirnya saya dapat berbuka puasa di tengah-tengah padatnya jalanan petang itu. Alhamdulillah.

Terima kasih untuk para pembagi takjil di jalanan. Berbagi itu memang indah, apalagi bila dilakukan di bulan yang suci ini. 🙂

Linux Is My Hero

Judul tulisan di atas sebenarnya saya sudah pernah menulisnya di blog komunitas Linux Universitas Gunadarma. Teman-teman dapat melihatnya di halaman berikut http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2012/12/30/linux-is-my-hero/ .

Saya menulis tulisan tersebut karena terkait lomba blog yang diadakan kampus pada akhir tahun lalu. Entah kenapa, saya tergerak untuk mencoba berpartisipasi dengan mengirimkan satu tulisan mengenai Linux.

Lama ditunggu dan tak ada kabar siapa pemenangnya, tiba-tiba muncul pengumuman pemenang pada awal bulan ini. Setelah melihat, ternyata ada nama saya di situ. Hehe. Betapa senangnya saya kala itu. Ya, maklum, ini penghargaan pertama saya terkait dengan bidang tulis menulis. 🙂

lombablogdesember

Tak adil rasanya apabila saya tidak menuliskannya juga disini. Berikut tulisannya.

Linux Is My Hero

Linux Is My Hero, ya sesuai dengan judul diatas, bagi saya linux itu adalah seorang pahlawan. Ia hadir ditengah-tengah kita dengan ciri khasnya. Disaat yang lain masih menggunakan produk berbayar, Linux hadir dengan produknya yang secara cuma-cuma (baca: gratis). Disaat yang lain kelimpungan karena virus dan sejenisnya, Linux hadir dengan kekebalan tubuhnya.

Linux, dengan icon bergambar penguin, mulai menyebar dari satu tempat ke tempat lainnya. Layaknya sekumpulan penguin yang sedang mencari makan. Keberadaan Linux-pun sekarang mulai banyak dikenal lewat mobile phone berbasis Android. Perlu saya ingatkan, Android ini menggunakan kernel Linux. Android menjadi terkenal karena keterbukaan kode sumbernya (open source), yang memungkinkan banyak pengguna mencoba mempelajari mengenai sistem tersebut, sehingga mereka bisa ikut berpartisipasi dalam meningkatkan performa sistem mereka. Bila anda melihat bagaimana Android berkembang sampai sekarang, ya itulah sama seperti prinsip hidup Linux!

Linux tidak dibuat dan dikuasai oleh satu perusahaan. Siapapun berhak membuat dan mengembangkan Linux sesuai dengan selera dan kebutuhannya masing-masing. Oleh sebab itu kita seringkali menjumpai berbagai variasi Linux (distro Linux), seperti misalnya : Fedora, Ubuntu, Open Suse, BlankOn, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Semakin hari, sistem Linux menjadi semakin lebih baik. Karena setiap saat perbaikan pun dilakukan. Para developer Linux-pun tersebar di seluruh dunia. Mereka mengembangkannya secara bersama-sama.

Begitu juga dengan penggunanya. Rasa solidaritas antar pengguna Linux-pun erat sekali. Bila Anda mengalami masalah, Anda bisa mengunjungi forum-forum pengguna Linux baik forum dalam negeri maupun luar negeri. Tanyalah di forum tersebut, bahkan tak sedikit yang mau memantu memecahkan masalah Anda. Dan akhirnya masalah menjadi terselesaikan.

Atau bagi Anda yang suka sekali mengotak-atik (atau bahasa kerennya oprak-oprek) sistem operasi, Linuxlah jawabannya.

Saya sendiri mulai mengenal Linux yaitu pada tahun 2010, ya sekitar 2 tahun yang lalu. Pertama kali saya lihat, Linux itu “beda” sekali bila dibandingkan dengan sistem operasi sejuta umat (kita sebut saja Windows). Karena “beda”, saya jadi semakin tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh sistem operasi tersebut. Malah terkadang saya sempat dibuat penasaran olehnya.

Lalu bagaimana dengan aplikasi-aplikasi Linux? Kalian tidak perlu khawatir, di Linux banyak sekali aplikasi-aplikasi alternatif yang bisa digunakan. Kalian bisa mengunjungi situs berikut http://www.linuxalt.com/ dan http://www.osalt.com/ . Di dalam situs tersebut disebutkan beberapa aplikasi alternatif. Contohnya bagi pengguna Windows dan MacOS yang biasa menggunakan Microsoft Office untuk mengetik, membuat dokumen, dan lain sebagainya, di Linux juga ada yang namanya Libre Office. Aplikasi ini tidak kalah bila dibandingkan Microsoft Office. Tampilannya pun dibuat mirip dengan versi Microsoft Office versi terdahulu. Ya agar penggunanya dibuat merasa nyaman dan mudah beradaptasi.

Terakhir..

Saya belajar banyak saat menggunakan Linux, mulai dari instalasi serta konfigurasi suatu program. Linux itu keren, linux itu powerful, linux itu is the best lah pokoknya. Bagi saya Linux itu bukan hanya sekedar sistem operasi biasa, melainkan pahlawan

Oke sekian dari saya. Keep calm and use Linux.

Ujian Menulis Paper, Dahsyat Sekali

DUA hari yang lalu, saya baru saja melaksanakan UAS (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Sistem Terdistribusi. Kebanyakan, bentuk-bentuk ujian di universitas manapun adalah sama. Kita datang ke kelas, dapat soal ujian, mulai mengerjakan, dan mengumpulkan jawaban ujian tersebut. Namun, yang saya alami ini berbeda dengan kebanyakan universitas pada umumnya. Bahkan, berbeda juga dengan teman-teman saya yang lain, walaupun dalam satu universitas. Tentunya ini karena saya sedang menjalani program SarMag (Sarjana Magister). Kampus saya memang benar-benar unik. Karena perbedaan tersebut, setiap UAS pun disesuaikan dengan dosen yang mengajar dan mahasiswanya. Pada intinya, semua dikembalikan lagi kepada dosen yang bersangkutan.

Setiap UAS pun saya selalu disuguhkan hal-hal yang baru. Mulai dari ujian tertulis, presentasi, bahkan yang baru saja terjadi, yaitu menulis PAPER.

Dapat dibayangkan, bagaimana situasi ujian yang saat itu berlangsung. Saat itu banyak sekali yang H2C (Harap-Harap Cemas), termasuk saya sendiri. Apalagi di detik-detik terakhir, wahhh. Seru memang.

Biasanya, dari yang sudah saya alami, penulisan paper itu dikerjakan oleh 3 orang, termasuk saya. Waktu pengerjaannya juga memakan waktu berhari-hari. Namun, yang saya alami saat itu luar biasa sekali pokoknya. Sendirian selama kurang lebih 4 jam. Ya, penulisan paper dilakukan oleh satu orang dengan waktu 4 jam. Dahsyat sekali.

Saya akui, hasil kerjaan saya saat itu masih jauh sekali dari kata SEMPURNA. Karena pemikiran, penulisan, dan pengeditan, semuanya dijadikan satu selama kurun waktu tersebut. Bagi yang sudah terbiasa menulis paper mungkin dengan mudahnya ia membuat paper tersebut. Namun, bagi yang lainnya? Tentunya mudah juga, apabila copy dan paste tulisan orang lain. Hehe.

Sebenarnya kita semua juga bisa kok melakukan hal tersebut dan melakukannya dengan baik. Saya jadi tersadar akan satu hal, bahwa menulis itu adalah kegiatan yang sangat penting sekali. Menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, serta paragraf demi paragraf, agar menjadi satu bentuk kesatuan yang dapat dikatakan sebagai, artikel, jurnal, paper, atau sekedar diary.

Semuanya PASTI butuh proses. Yang paling penting adalah jangan pernah menyerah untuk selalu mencoba dan mencoba. 🙂

Perlukah Instalasi Microsoft Word di Linux?

Apakah perlu menginstall aplikasi pengolah kata ‘Microsoft Word’ di Linux? Pertanyaan yang dirasa cukup aneh, namun sulit sekali untuk menjawabnya.

Banyak sekali pengguna Linux yang menanyakan tentang hal tersebut. Termasuk saya juga. Padahal, di Linux sendiri, juga terdapat aplikasi pengolah kata yang sangat kompatibel di sistemnya. Sebut saja LibreOffice Writer, AbiWord, dan lain sebagainya. Bahkan, Linux Ubuntu, salah satu distro (varian) Linux terpopuler, sudah memaketkannya saat proses instalasi sistem operasi tersebut. Kurang enak gimana lagi tuh?

Namun, kendala yang sedari dulu saya alami adalah ke-kompatibel-an antara aplikasi yang satu dengan yang lain, yaitu saat dokumen dibuka dengan menggunakan Microsoft Word dan LibreOffice Writer. Bagi yang pernah merasakan, pasti tahu akan hal tersebut. Menjadi sedikit tidak karuan. Dokumen yang tadinya telah tersusun rapi yang dibuat dengan menggunakan Microsoft Word, kemudian saat dibuka dengan LibreOffice Writer menjadi sedikit berbeda. Begitu juga dengan sebaliknya. Tanya Kenapa?

Mungkinkah hal tersebut dapat teratasi pada nantinya? Saya sangat berharap sekali. Apalagi bagi mahasiswa seperti saya yang setiap harinya berkutat dengan dokumen serta tugas-tugas. Mungkin tidak hanya mahasiswa saja, semua profesi tentunya juga membutuhkan dokumen berupa laporan untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya tersebut.

Jadi, untuk sementara waktu, perlukah menginstalasi aplikasi Microsoft Word di Linux?