Wisuda Lagi

Wisuda kedua kalinya. Alhamdulillah, terima kasih semuanya. Atas doanya dan atas supportnya.

image

Ini amanah. Apa yang telah saya dapatkan sampai saat ini pasti bukanlah hanya untuk diri saya sendiri. Ini untuk semuanya. Ilmu yang saya pelajari pasti ada pertanggung-jawabannya nanti bila saya tak mengamalkannya.

Banyak pihak yang telah berjasa mengantarkan saya sampai ke titik sekarang ini. Maaf saya belum bisa membalas banyak kepada kalian semuanya.

Btw, sempat pegal juga tadi menunggu panggilan untuk naik ke atas panggung dan bersalaman dengan rektor. Iya apalagi lulusan S2 mendapat kesempatan terakhir naik ke atas panggung sesudah S3, D3, dan S1.

Tapi, tak masalah. Mungkin di situ letak serunya dalam proses wisuda. Menunggu.

Sekarang proses wisuda telah selesai. Saatnya kembali ke realita yang sebenarnya, di mana ujian-ujian kehidupan banyak menghampiri kita.

Yuk, mari kita kembali melanjutkan mimpi menggapai cita. Semangat, guys. 🙂

Dulu Dijaga, Sekarang Menjaga

Dulu saya dan kawan-kawan sekelas yang dijaga, sekarang gantian saya yang menjaga sekelas. Ah, rasanya waktu berputar begitu cepat.

Dulu pada saat saya masih kuliah reguler pada semester 1 dan 2, saya masih merasakan bagaimana rasanya mengerjakan UTS. Waktu keterlambatan dibatasi paling lambat 30 menit sesudah bel berbunyi. Bila lewat dari waktu tersebut, mau tidak mau kita tidak dapat mengikuti ujian tersebut. Serta, ada yang tidak boleh terlupa untuk dibawa, yaitu KRS (Kartu Rencana Studi). Bila KRS tersebut tertinggal di rumah misalnya, maka kita perlu mengurusnya di lantai 1 terlebih dahulu untuk meminta kartu sementara sebagai syarat mengikuti UTS. Bila itu sampai terjadi, hal tersebut sangatlah menyita waktu. Iya, di saat yang lain mulai menggunakan otaknya untuk berpikir dalam menjawab soal-soal UTS, sementara si lupa membawa KRS harus repot mengurus hal yang diurus tersebut.

Dulu dijaga, sekarang menjaga.
Dulu dijaga, sekarang menjaga.

Tidak hanya itu yang perlu dipersiapkan, UTS adalah sebuh ujian. Untuk menghadapi ujian, mau tidak mau sebelumnya kita harus belajar terlebih dahulu agar bisa menaklukan soal-soal UTS tersebut. Iya, pada intinya banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki sebuah ruangan yang biasanya dijaga oleh dua sampai tiga orang pengawas ruangan tersebut.

Dulu saya sempat dibuat bingung. Pengawas yang mengawas ruangan selalu memiliki tampang-tampang yang tergolong muda. Saya ragu apakah mereka-mereka ini dosen atau bukan, tapi kelihatannya mereka belum layak bila dipanggil dengan sebutan bapak atau ibu dosen. Lebih pas bila dipanggil dengan sapaan “Kak”.

Dulu saya sempat berandai-andai menjadi pengawas UTS. Keliatannya kok menyenangkan sekali. Masuk ke dalam ruangan tanpa perlu takut terhadap soal apa yang akan keluar. Asyik-asyik saja kelihatannya. Kerjaannya hanya mengamati ruangan sekitar. Bila timbul diskusi-diskusi ringan dari mahasiswa, entah itu sedang bekerja sama atau hanya sekedar meminjam alat tulis, mereka dapat menegor kapan pun mereka mau. Bila ada yang terlihat membawa sebuah contekan, mereka tinggal melaporkan kejadian pencontekan yang dilakukan oleh mahasiswa A tersebut dengan mencatatnya dalam sebuah BAP. Menyenangkan, bukan?

Dulu dijaga, sekarang menjaga

Entah kenapa, saya merasa apa yang tanpa sengaja saya celotehkan, dengan berharap suatu saat nanti dapat mengawas jalannya ujian dan lain sebagainya, mulai terkabul perlahan. Pada UTS kali ini, yang selalu diadakan di perkuliahan reguler, saya dipercayakan untuk ikut mengawas. Sebenarnya bukan dipercaya, tapi waktu itu saya mendaftar lebih tepatnya minta tolong didaftarkan hehe. Berhubung saya juga menjabat sebagai asisten laboratorium sistem informasi di kampus saya dan saya juga telah lulus untuk jenjang S1, maka saya diperbolehkan untuk ikut mengawas. Karena setahu saya yang diperbolehkan mengawas UTS adalah dosen dan para asisten lab yang memenuhi syarat tertentu. Dengan rasa keingintahuan saya yang cukup tinggi, saya berniat untuk mencobanya.

Hari ini adalah hari kedua saya dalam mengawas UTS. Harusnya bila saya menjadi pengawas yang rajin, sampai hari ini saya sudah mengawas sebanyak 6 hari. Bukan berarti saya dengan sengaja meninggalkan tanggung jawab, karena memang perkuliahan saya belum selesai. Tetap, saya memiliki sebuah prioritas, kuliah saya lah yang utama di atas segala-galanya. Mau tidak mau saya harus izin mengawas UTS.

Mengawas UTS merupakan hal yang paling santai menurut saya. Pertama, kita memang disibukkan dengan membagikan soal-soal kepada para mahasiswa. Lalu kemudian berkeliling lagi untuk meminta tanda tangan mahasiswa sembari mengecek KRS yang mereka bawa. Sudah. Lalu setelah itu, yang dapat saya lakukan adalah diam santai di sudut ruangan. Maka dari itu, sesuatu hal yang sekiranya bermanfaat dapat dilakukan pada saat-saat ini. Seperti tadi, saya malah dapat menyicil mengerjakan tugas kuliah.

Jaga UTS, tapi nyambi nugas
Jaga UTS, tapi nyambi nugas

Selain itu, saya juga dapat berkenalan dengan orang-orang baru yang belum saya kenal sebelumnya. Ada dosen dan ada juga asisten laboratorium dari jurusan lain. Karena memang dalam mengawas UTS biasanya dipasangkan oleh para koordinator, jadinya terkadang saya dipasangkan mengawas dengan orang-orang yang tampak asing bagi saya. Haha begitu juga saya yang dianggap asing bagi mereka.

Sejauh ini, sih, menyenangkan. Hitung-hitung menambah pengalaman. 🙂

Oke, adik-adik mahasiswa Gunadarma yang mungkin saja membaca tulisan ini, siap-siap diawas oleh kakak yang baik hati ini ya. Hehe 🙂

Apalah Arti Sebuah Nama

Shakespeare pernah mengatakan, “Apalah arti sebuah nama?” Mawar tetaplah mawar walau kau panggil dengan sebutan apapun. Wanginya akan tetap harum semerbak.

Cerita ini berawal dari pengalaman bertugas saya pada hari minggu kemarin. Sampai saat ini, saya memang masih bertugas menjadi Asisten Laboratorium Sistem Informasi di Kampus Gunadarma Kalimalang. Pada hari minggu kemarin, saya mengemban tugas menjadi ketua asisten selama seharian penuh dari shift pertama sampai terakhir di salah satu ruangan lab.

Ketika praktikum sedang berlangsung, teman se-ruangan saya pun mulai memberi-tahukan kejadian unik di sini. FYI, nama lengkap saya adalah Mahisa Ajy Kusuma. Namun, apa yang para praktikan tulis pada laporan praktikumnya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Pada bagian “Ketua Asisten”, nama saya berubah (mungkin) tergantung selera para praktikan tersebut. Ada yang menulis “Mahisa Azy”, “Mahisa Aly”, dan lain sebagainya.

Saya sendiri tertawa melihat fenomena ini. Kenapa ini bisa terjadi? Apa karena nama saya yang tergolong unik bila pertama kali didengarkan, sehingga menyebabkan munculnya beberapa varian dari nama saya tersebut. Ah, saya juga bingung. Padahal saya merasa bahwa saya sudah menjelaskannya dengan begitu jelas pada pertemuan yang pertama.

Bahkan, ada lagi yang lebih lucu. Di shift terakhir praktikum, lagi-lagi ada yang menuliskan nama lain. Kali ini lebih aneh. “Mahita Ajy”. Ah, cantik sekali, bukan? Seketika itu saya langsung merasa cantik bila dipanggil dengan nama itu. 😀

apalah arti sebuah nama
Keren juga

Dalam karyanya, “Romeo and Juliet”, Shakespeare pernah mengatakan,

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;

Iya, perumpamaannya bunga mawar. Kau tahu bunga mawar, kan? Jikalau bunga mawar tersebut kita panggil dengan sebutan lain, bukankah wanginya tetap wangi mawar yang harum semerbak itu?

Walau saya dipanggil dengan sebutan apapun, ya saya akan tetap menjadi seorang Mahisa Ajy Kusuma dengan segala kelebihan dan kekurangan yang saya miliki. Tidak lebih dan tidak kurang. 🙂

Gladi Resik, Wisuda sudah di depan Mata

Waktu berlalu tanpa ragu dan tanpa malu-malu. Tibalah waktunya untuk berkumpul bersama-sama mahasiswa lainnya yang saat ini sudah berada di ujung puncaknya dan sudah malang melintang menimba ilmu di kampus tercinta, yakni Universitas Gunadarma.

Ramai sekali, hari selasa kemarin sungguh ramai sekali. Saya hadir di ruangan yang penuh dengan ratusan mahasiswa. Gladi resik wisuda nama acaranya. Saya datang bersama kawan-kawan lainnya guna mendapatkan informasi seputar pelaksanaan wisuda. Tak terasa juga, saya sudah melewatkan ratusan hari menyandang status mahasiswa.

Sebentar lagi wisuda pun berlangsung. April nanti akan menjadi hari yang sangat bersejarah bagi saya, tepatnya tanggal 8 April 2014. Memakai toga, berfoto dengan bangganya, melemparkan topi wisuda ke langit seperti yang sering saya lihat di film-film. Ah, sungguh asyik sekali pasti rasanya. Namun, saya belum sepenuhnya keluar dari lingkungan kampus. Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya, saya masih harus menyandang kembali status mahasiswa, tapi di tingkat yang sungguh berbeda. Konon katanya ilmu yang nanti akan saya tekuni ini sangat berguna sekali di kehidupan yang sebenarnya. Senangnya bukan main. Tetap saja, rasa senang saya masih kalah dibandingkan dengan rasa senang orang tua saya. Mereka sungguh mendidik saya dengan cara yang luar biasa hingga saya menjadi seperti sekarang ini. Sudah sepatutnya mereka lebih berbangga dari saya sendiri.

Saat menghadiri gladi resik wisuda kemarin, saya juga merasa senang sekali. Syukur Alhamdulillah, saya masuk ke dalam daftar 33 orang dengan IPK tertinggi. Walaupun bukan saya yang nomor 1, tapi tetap saja kebanggaan ini bukan kebanggaan biasa, rasanya sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Tiket putih yang sebelumnya saya dapat pun ditukar dengan tiket berwarna kuning. Tak salah juga, kan, apabila saya menyebutnya dengan Golden Ticket?

Golden Ticket
Dapet Golden Ticket! Horeee!

Sekarang, tinggal menanti saja tanggal tersebut selama kurang dari 3 minggu. Sambil menunggu, tentunya banyak hal yang belum terselesaikan dan harus segera terselesaikan. Ya, semisal revisi skripsi dan lain-lainnya. Semangat, yuk, ah..