[Skripsi] Perjuangan telah dimulai?

Tadi siang, baru saja saya mendapatkan kabar yang cukup tidak menggembirakan di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti. Kabar apakah itu? Ternyata informasi tersebut mengenai siapakah dosen pembimbing yang nantinya akan membimbing beberapa mahasiswanya, yaitu saya dan teman-teman tercinta.

Sempat dag dig dug serrr juga tadi saat menunggu detik-detik pemberitahuan dosen pembimbing. Iya, soalnya ini kan menyangkut perjuangan mahasiswa dalam beberapa minggu ke depan, dan untuk menyelesaikan sebuah tantangan yang dikenal dengan nama “Skripsi” ini. Semua mahasiswa tentu saja berharap mendapatkan dosen pembimbing yang sedap dipandang dan lawan jenis tentunya baik hati dan selalu sabar dalam membimbing mahasiswanya, tapi kalau tiba-tiba saja beliau menjadi tidak sabar mungkin dikarenakan mahasiswanya saja yang sedikit kurang ajar. Mungkin..

Setelah akhirnya mengetahui, siapa yang akan membimbing saya dalam beberapa minggu ke depan, saya pun bernafas lega. “Oh, ternyata doi, tohh..” Beruntung, beliau juga pernah memberikan ilmunya di kelas saya pada suatu mata kuliah tertentu. Sehingga, mungkin sudah tidak ada lagi sekat kewaspadaan yang memisahkan jarak kita berdua. Halah, Hehe.. Mohon kerjasamanya ya, bu.

Ohya, terkait posting saya beberapa bulan yang lalu, yang tentu saja berkaitan dengan skripsi, otomatis kali ini saya sudah menyandang predikat sebagai “Pedjoeang Skripsi”. Harus senang atau harus sedih, ya? Yang pasti perjuangan telah dimulai dari hari ini. Pokoknya, saya harus memperjuangkan tugas skripsi ini sampai selesai. Iya, inilah semangat saya di hari pertama. Entahlah, bagaimana dengan hari-hari selanjutnya. Semoga saja semangat saya masih tetap membara sampai pada hari H nya, yaitu saat sidang nanti. Hmm, sepertinya lebih baik tidak berbicara mengenai sidang terlebih dahulu, karena masih terlalu dini untuk diperbincangkan. Biarlah ide-ide yang ada, saran dari dosen pembimbing, serta jari-jemari saya mengalir membentuk karya indah yang berguna bagi banyak orang dan tertuang dengan sangat menarik di dalam skripsi saya. Karena masih ada cukup banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan dan menyempurnakan skripsi ini.

Tadi saya juga telah menyiapkan beberapa alat perang, maksudnya tools-tools yang digunakan untuk membuat sebuah aplikasi, di dalam diri teman terbaik saya, yakni Notebook tercinta saya. Walaupun tadi sempat mengalami error berkali-kali, namun akhirnya terselesaikan juga. Meskipun masih ada beberapa kendala, saya rasa masih dapat ditangani dalam waktu beberapa hari ke depan.

Mengenai tema mungkin sudah terbayang, namun judulnya itu yang masih menjadi tantangan tersendiri. Perlu pemikiran mendalam untuk dapat menentukan apa yang akan saya bahas nantinya. Dipikir-pikir sendiri lama-lama memang bisa membuat bingung. Hati-hati saja, nanti bisa sakit kepala, lho. Oleh karena itu, memang perlu diskusi lebih lanjut dengan ahlinya. Saya harap semuanya bisa menjadi sangaaaat.. indaaahh pada waktunya nanti. Semoga ya.

Di akhir kata saya berpesan.
“Selamat berjuang, teman-teman satu perdjoeangan skripsi!”

Tantangan Pengaju Proposal

Ternyata memang tidak mudah mempresentasikan sebuah proposal. Perlu sedikit keahlian yang tepat untuk bisa memikat hati para client. Juga, sudah merupakan kewajiban pula untuk membuat para client tersebut merasa nyaman dengan apa yang kita jelaskan kepada mereka. Janganlah menggurui, itulah pelajaran yang hari ini saya dapat dari salah satu dosen pada mata kuliah tertentu.

Karena seharusnya yang diciptakan adalah suasana positif untuk menggugah hati client tersebut untuk menyetujui proposal kita. Alangkah baiknya apabila kita melakukan riset kecil-kecilan untuk mempelajari karakter client, agar semakin tercipta tek-tok yang membuat kita dan mereka menjadi semakin klop.

Proposal juga tak lepas dari peran biaya yang ada di dalamnya. Biaya itu tak boleh mengada-ada. Apabila ketahuan, maka akan sangat fatal sekali akibatnya. Iya fatal, tadi soalnya saya sempat mengalami hal tersebut. Mungkin terjadi kekeliruan yang tak disengaja, tapi sepertinya kekeliruan tersebut tak akan termaafkan. Namun, untungnya saja ini baru latihan. Bagaimana kalau hal tersebut benar-benar terjadi, ya? Kepercayaan yang dimiliki client mungkin akan berkurang terhadap kita, bahkan bisa saja client tersebut tidak akan pernah percaya lagi kepada kita. Ah, tidak…

Penjabaran yang jelas itu juga tak boleh dilupakan. Tak apa tak rinci, tetapi ya tadi, jelas.. Hal yang terpenting adalah bagaimana client menangkap apa yang sedang kita jelaskan tersebut.

Mungkin ini saja celotehan yang bisa saya bawa dari kampus.

Jaya terus teman-teman mahasiswa dan mahasiswi ku di seluruh Indonesia!

Mahasiswa Komputer Menulis Puisi. Apa Salahnya?

Perkenalkan, kami adalah sekumpulan mahasiswa komputer. Banyak mahasiswa di jurusan lain yang mengatakan bahwa kami jarang sekali bergaul. Mereka juga mengatakan bahwa kami hanya memiliki satu orang teman saja, yaitu komputer. Apakah benar begitu adanya? Kami tentunya memiliki banyak sekali kawan. Tetapi tak bisa saya sebutkan semuanya disini. Mungkin beberapa diantaranya adalah tetikus dan papan ketik.

Baru-baru ini juga kami memiliki sebuah teman baru. Namanya “kata”. Dari kata dapat terbentuklah sebuah kalimat, artikel, puisi, dan lain sebagainya.

Puisi. Ya, puisi merupakan sekumpulan kata-kata indah yang terkumpul menjadi satu. Kami sangat menyukai sekali puisi. Mahasiswa komputer menulis puisi, anehkah? Memangnya hanya mahasiswa sastra saja yang diperbolehkan. Lantas, kami-kami ini, yang menyandang predikat sebagai mahasiswa komputer, tidak diperbolehkan?

Sebenarnya kami sama seperti kalian semua. Kami tergolong manusia yang suka sekali dengan sesuatu yang bertema keindahan, kecantikan, dan kesempurnaan. Walaupun kami tahu kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, tetapi kami menganggap sesuatu hal, yang mungkin saja apabila dilihat secara kasat mata memiliki banyak kekurangan, pastinya merupakan bentuk yang paling sempurna, yang semuanya itu merupakan anugerah dari Tuhan. Semua menjadi terlihat sempurna.

Kami menyukai kata. Apalagi kata yang tersusun sedemikian rupa. Ataupun kata yang memiliki sesuatu kekuatan. Orang luar disana mengenalnya dengan sebutan “The Power of Words”.

Kami hanya ingin bermain dengan beberapa dari banyaknya kata yang ada tersebut. Kami biarkan saja kata-kata tersebut mengalir seperti air. Kami biarkan terjatuh dan terkumpul menjadi satu di suatu lautan kata. Selanjutnya kami hanya perlu menyelami lautan tersebut. Merasakan dinginnya, amarahnya, asinnya, dan sucinya kata-kata yang telah bersatu padu tersebut. Semakin dalam maka semakin terhanyut. Entahlah, lama kelamaan mungkin kami akan menjadi manusia penghuni lautan kata.

Bukannya kami jenuh dengan kode-kode program yang selalu berada di dekat kami. Kami hanya ingin bersenang-senang dengan teman baru kami. Tidak ada lagi aturan penulisan yang selalu mengikat kami seperti pada saat kami bermain-main dengan kode program. Kami ingin merasakan kebebasan, dengan menyusun kata demi kata secara bebas. Juga tak terikat. Tidak ada yang mengatur dan membatasi. Kami ingin menuliskan semuanya dan tenggelam lebih jauh bersama kata-kata yang ada.

Manusia komputer menulis puisi. Apa salahnya?