Malam Jangan Dijadikan Alasan

Jumat lalu, saya baru saja melakukan pertemuan dengan seorang klien. Bukan seorang, lebih tepatnya dua orang, yakni dia bersama dengan seorang temannya. Uniknya, pertemuan kami pun dilangsungkan pada malam hari, jam 11 malam. Di saat orang-orang lain tertidur, kami malah asyik membicarakan sebuah proyek. Memang sungguh luar biasa.

Umur saya dengan mereka pun tak terpaut begitu jauh. Jiwa muda yang selalu bergejolaklah yang mengajak kami untuk melakukan pertemuan di malam hari. Akhirnya dipilihlah sebuah tempat yang asyik di sebuah minimarket.

Langkah Malam
Langkah Malam (sumber: https://www.flickr.com/photos/simon_mccheung/9883443873)

Malam terus berjalan. Tak terasa hari telah berganti ke hari lainnya. Mulailah nampak gejala-gejala fisik kita yang “berkata” terlalu jujur. Sehingga tanda-tanda kantuk pun mulai terlihat sekali dua kali. Saya merasakan ini. Karena sayalah sedang berada di posisi yang sedang mengantuk tersebut. 🙂

Dari pagi sampai sore hari, saya kuliah. Pulang kuliah pun masih harus melakukan konferensi dengan rekan-rekan satu tim Manglesoft untuk membicarakan mengenai perbaikan fitur aplikasi. Iya, ceritanya hari itu sedang sibuk-sibuknya.

Saya sendiri sebenarnya merasa tidak enak dengan klien saya tersebut. Saya tetap berusaha untuk mendengarkan keinginan mereka dan memberikan saran-saran serta solusi. Walau sikap saya yang terlihat sedikit mengantuk tersebut, tapi secara maksud bahwa apa yang saya sampaikan sepertinya tidak berkurang sedikitpun. Walau cenderung pasif, otak saya malah sedang aktif memikirkan beberapa strategi ke depannya yang dapat diterapkan kepada bisnis mereka.

Ah, iya. Tak usah merasa bersalah seperti itu.. Jadi, malam jangan dijadikan alasan, karena peluang adalah tetap peluang. Mau datang kapan saja pun harus kita kejar, bukan? Karena di situlah terdapat niat suci untuk membantu sesama. 🙂

Selamat Malam. Hoaammm.

Sebuah pesan “Error Kampret !” di tengah malam. Eh, tidak di tengah-tengah, tapi posisinya sedikit ke kanan. Ke kanan dan masih terus saja berjalan dengan perlahan dan dengan pastinya.

Sebuah pesan penanda tidur. Melihat jam, tak terasa lembur. Padahal, tadi santai-santai dengan irama merdu yang terdengar dari dalam mesin radio.

Mata juga sudah berada di posisi antara membuka dan menutup. Hidung pun juga sudah kembang kempis.

Sudahlah, mungkin ini saatnya menekan tombol shutdown, dan merebahkan diri ke tempat tidur. Sudah waktunya untuk berpesta pora di tempat penuh mimpi dan berpetualang di dalam sana.

Selamat malam. Hoaammm..