Tak Akan Pernah Kembali

Teruntuk sesuatu yang tak akan pernah kembali,

Entah kenapa, aku selalu saja dibuat kagum olehmu. Sifatmu itu, loh, yang gigih. Kau seperti tak mengenal kata lelah. Selalu saja terus berjalan walaupun keadaan sedang tak mendukungmu sekalipun. Tak henti-hentinya kau melangkahkan kaki dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Kulihat, tak sekalipun engkau pernah mengeluh. Bagaimana bisa? Strategi macam apa yang kau gunakan? Sudikah kau memberi-tahukannya padaku. Iya, aku juga ingin memiliki sifatmu itu. Maklum, aku ini hanyalah manusia yang berlagak sok kuat saja di luarnya.

Kau terus menatap ke depan tanpa menghiraukan sesuatu yang ada di belakangmu. Tak pernah kah terpikirkan olehmu untuk kembali ke masa yang lalu? Merasakan kenangan-kenangan manis yang dulu pernah kau rasakan. Kalau aku jadi sepertimu, sih, sudah pasti aku merindu, mengenang kembali masa-masaku dulu. Iya, walaupun kelam sekalipun, barangkali aku bisa memetik pelajaran dari diriku yang dulu.

Hmm, sebenarnya aku sudah tahu. Bukannya tak mau, tapi tak bisa, bukan?

Sekarang ini pasti kau sedang menunggu suatu mesin yang seringkali diperbincangkan oleh banyak orang. Kau menunggu seorang jenius yang bisa mewujudkan mimpimu itu, kan?

Seandainya itu terjadi, memangnya apa yang mau kau lakukan?

Kau mau mengacaukan semuanya? Jangan, menurutku jangan. Apa yang sudah digariskan, nanti menjadi kacau berantakan. Nasib orang bisa tertukar dengan yang lainnya.

Kau harus bisa menahan egomu itu. Harus bisa.

time will answer.
waktu via https://www.flickr.com/photos/zi-sky/

Waktu, walau kau selalu terus berjalan dan tak akan pernah kembali, aku yakin semua akan indah di penghujung waktumu.

dari aku, yang selalu bersamamu

Waktu

percaya kepada waktu
Percaya kepada waktu (sumber: http://www.geek-art.net)

Waktu. Ini cerita tentang waktu yang selalu terus berjalan..

Waktu pun tahu bahwa dulu kita pernah bersama-sama, menorehkan banyak sekali cerita yang tak akan terlupakan sampai sekarang. Waktu juga menjadi saksi kenangan-kenangan kita terdahulu..

Waktu memang terus berlalu, meninggalkan semua kisah yang kita semua pernah tahu dan kita pernah rasakan. Waktu pun banyak merubah kita. Dari kita yang belum mengenal banyak hal, hingga sekarang semua hal pun kita tahu. Dan tanpa kita sadari, kita pun telah jauh berubah dari yang waktu dulu. Mungkin kita tak menyangka bahwa kita dulu adalah kita. Tapi apa mau dikata, memang begitu adanya..

Dari waktu ke waktu, waktu kita untuk berkumpul pun juga semakin berkurang, malah hampir tidak ada. Kita coba mencari-cari waktu yang tepat, tapi keadaan kita sekarang lah yang menjadi penghalangnya. Siapa yang harus kita kambing hitamkan? Tolong, jangan salahkan waktu..

Kali ini kita sudah memiliki waktu yang tepat. Kita bisa dipertemukan kembali seperti waktu itu. Ini momen berharga, dan tidak akan pernah bisa dibayar dengan apapun. Percayalah.. Ini waktu kita, bukan mereka. Saatnya meluangkan waktu untuk mengulang waktu-waktu kita saat bersama dahulu. Sampai jumpa di waktu nanti..

Jangan Memaksa?

Banyak yang mengatakan bahwa memaksakan itu merupakan tindakan yang tidak baik. Banyak kerugiannya dibandingkan dengan manfaatnya. Namun, bagaimana kalau kita sedang berada pada keadaan yang darurat, misalnya dikejar deadline atau apalah, apakah itu semua mengharuskan kita untuk memaksakan diri?

Jawaban yang sepertinya sulit untuk dijawab. Mungkin ada beberapa pertimbangannya dan tergantung pula kepada keadaan yang sedang berlangsung. Apakah memang penting sekali, penting banget, atau penting banget-banget-banget..

Kalau tidak dipaksa, maka kita juga harus siap menanggung segala resikonya. Entah itu dimarahi, entah itu menghilangkan kepercayaan seseorang terhadap kita. Kalau dipikir-pikir, bagai memakan buah simalakama, memang. Di satu sisi kita berniat untuk menyelesaikan kewajiban kita, namun di satu sisi kita tidak ingin memaksakan diri kita.

Saya jadi teringat terhadap seseorang yang baru-baru ini ramai sekali diberitakan. Ia memaksakan dirinya untuk terus menyelesaikan pekerjaannya. Tanpa kenal waktu dan tanpa kenal lelah. Ia memang menunjukkan profesionalitasnya, tapi di balik semua itu ia mengesampingkan kesehatannya. Setiap manusia pasti memiliki batas-batas yang tidak boleh sekalipun dilanggar, bukan?. Apabila dilanggar maka akan fatal sekali akibatnya. Mungkin, sudah bisa ditebak, bagaimana kelanjutan seseorang yang terlalu memaksakan dirinya itu? Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya.

Kejadian tersebut secara tidak langsung menyadarkan saya. Sebagai manusia biasa yang lemah (tapi tidak gemulai), memang seharusnya kita mengenal kondisi fisik kita masing-masing. Kita sendiri lah yang dapat mengatakan apakah kita bisa bertahan dalam situasi tertentu. Apabila sudah muncul tanda-tanda yang tidak wajar, sebaiknya kita menghentikan langkah kita sementara waktu. Jika sudah bugar kembali, jalankan kembali langkah kaki kalian dengan semangat yang membara.

Sebenarnya, apabila dipikir-pikir, dalam kasus ini yang memegang kendali adalah perlakuan kita terhadap waktu. Mungkin ini yang namanya sebuah pelajaran dalam kehidupan. Karena seringkali kita menyia-nyiakan waktu yang bergulir begitu tenang, namun dibalik itu ternyata sangat menghanyutkan. Kita terbuai dengan segala keajaiban yang membelakkan mata, yang membuat kita mengesampingkan kewajiban-kewajiban kita.

Kita memang dituntut untuk menghargai waktu sebagaimana kita menghargai orang lain. Karena waktu adalah uang, yang jelas-jelas tak bisa dibeli dengan uang pula. Waktu ibaratnya adalah harta yang kita miliki. Apabila seseroang memperlakukannya dengan baik, maka sudah pasti dia akan memetik banyak sekali manfaatnya. Namun, apabila seseorang memperlakukannya dengan semena-mena, maka biasanya penyesalan yang akan datang.

Memaksakan atau tidak, itu pilihan kalian masing-masing. Kalau saya jelas lebih memilih untuk menghargai waktu. Tapi, saya pikir-pikir, menghargai waktu juga rasanya tidak semudah dengan mengucapkannya saat ini. Ah, dasar manusia.