Wisuda Lagi

Wisuda kedua kalinya. Alhamdulillah, terima kasih semuanya. Atas doanya dan atas supportnya.

image

Ini amanah. Apa yang telah saya dapatkan sampai saat ini pasti bukanlah hanya untuk diri saya sendiri. Ini untuk semuanya. Ilmu yang saya pelajari pasti ada pertanggung-jawabannya nanti bila saya tak mengamalkannya.

Banyak pihak yang telah berjasa mengantarkan saya sampai ke titik sekarang ini. Maaf saya belum bisa membalas banyak kepada kalian semuanya.

Btw, sempat pegal juga tadi menunggu panggilan untuk naik ke atas panggung dan bersalaman dengan rektor. Iya apalagi lulusan S2 mendapat kesempatan terakhir naik ke atas panggung sesudah S3, D3, dan S1.

Tapi, tak masalah. Mungkin di situ letak serunya dalam proses wisuda. Menunggu.

Sekarang proses wisuda telah selesai. Saatnya kembali ke realita yang sebenarnya, di mana ujian-ujian kehidupan banyak menghampiri kita.

Yuk, mari kita kembali melanjutkan mimpi menggapai cita. Semangat, guys. ­čÖé

Gladi Resik, Wisuda sudah di depan Mata

Waktu berlalu tanpa ragu dan tanpa malu-malu. Tibalah waktunya untuk berkumpul bersama-sama mahasiswa lainnya yang saat ini sudah berada di ujung puncaknya dan sudah malang melintang menimba ilmu di kampus tercinta, yakni Universitas Gunadarma.

Ramai sekali, hari selasa kemarin sungguh ramai sekali. Saya hadir di ruangan yang penuh dengan ratusan mahasiswa. Gladi resik wisuda nama acaranya. Saya datang bersama kawan-kawan lainnya guna mendapatkan informasi seputar pelaksanaan wisuda. Tak terasa juga, saya sudah melewatkan ratusan hari menyandang status mahasiswa.

Sebentar lagi wisuda pun berlangsung. April nanti akan menjadi hari yang sangat bersejarah bagi saya, tepatnya tanggal 8 April 2014. Memakai toga, berfoto dengan bangganya, melemparkan topi wisuda ke langit seperti yang sering saya lihat di film-film. Ah, sungguh asyik sekali pasti rasanya. Namun, saya belum sepenuhnya keluar dari lingkungan kampus. Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya, saya masih harus menyandang kembali status mahasiswa, tapi di tingkat yang sungguh berbeda. Konon katanya ilmu yang nanti akan saya tekuni ini sangat berguna sekali di kehidupan yang sebenarnya. Senangnya bukan main. Tetap saja, rasa senang saya masih kalah dibandingkan dengan rasa senang orang tua saya. Mereka sungguh mendidik saya dengan cara yang luar biasa hingga saya menjadi seperti sekarang ini. Sudah sepatutnya mereka lebih berbangga dari saya sendiri.

Saat menghadiri gladi resik wisuda kemarin, saya juga merasa senang sekali. Syukur Alhamdulillah, saya masuk ke dalam daftar 33 orang dengan IPK tertinggi. Walaupun bukan saya yang nomor 1, tapi tetap saja kebanggaan ini bukan kebanggaan biasa, rasanya sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Tiket putih yang sebelumnya saya dapat pun ditukar dengan tiket berwarna kuning. Tak salah juga, kan, apabila saya menyebutnya dengan Golden Ticket?

Golden Ticket
Dapet Golden Ticket! Horeee!

Sekarang, tinggal menanti saja tanggal tersebut selama kurang dari 3 minggu. Sambil menunggu, tentunya banyak hal yang belum terselesaikan dan harus segera terselesaikan. Ya, semisal revisi skripsi dan lain-lainnya. Semangat, yuk, ah..