Facebook Memecah Konsentrasi, Benarkah?

Sekarang memang zamannya social media (media sosial). Hampir setiap orang memiliki akun di media sosial, diantaranya Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. Mungkin teman-teman disni tentunya lebih tahu apa saja media sosial yang mulai menjamur dan banyak digemari pada saat ini.

Dari sekian banyak media sosial yang bertebaran, kita bisa mengambil contoh Facebook. Banyak orang mengatakan bahwa Facebook adalah suatu wadah untuk bertemu dengan teman-teman lama kita, yang sudah lama tak berjumpa dan dulu pernah hilang namun masih tetap terbayang :). Bahkan, salah satu grup musik di Indonesia, Gigi, menciptakan sebuah lagu yang memiliki makna senada dengan yang saya katakan tadi. Berikut sepenggal liriknya:

Berawal dari facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih yang lama hilang
Satu dari kekasih yang terbaik

Anda tadi bernyanyi? Maaf, mas mbak, saya sedang tidak mengantungi uang receh. 😀

Sesama Facebookers (sebutan untuk pengguna Facebook) kita dapat saling bercengkerama dan berbagi kisah, gambar atau foto, video, lokasi, dan lain sebagainya. Asyik sekali. Kita jadi tahu apa yang teman kita saat ini sedang lakukan melalui tulisan yang ada di dinding (wall) facebooknya. Enaknya, kita juga dapat memberi komentar atas apa yang telah ditulis oleh teman kita tadi. Mau berkomentar santai atau serius itu kembali lagi kepada pilihan kita. Mungkin hal ini dapat menjadi selingan di tengah-tengah kesibukan yang sedang kita hadapi.

Pada awalnya selingan, namun lama-kelamaan Facebook mulai menyebabkan kecanduan. Banyak orang menunda suatu pekerjaan hanya karena Facebook. Tugas-tugas menjadi terbengkalai, dan konsentrasi untuk mempelajari sesuatu juga terkadang terpecah belah. Entahlah, ini hanya pendapat saya saja atau juga pendapat kebanyakan orang. Berhati-hatilah. Apabila kalian sudah terlanjur tercebur ke dalam samudera Facebook, segeralah berenang ke atas untuk menghirup udara segara dan merasakan hangatnya matahari. Kemudian kembali menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan.

Mereka bahkan mengisi waktunya dengan ber-Facebook-an ria (atau media sosial lain) selama seharian penuh. Mereka mengorbankan waktu berharganya hanya untuk mengikuti perkembangan teman-temannya melalui status yang dilontarkan yang dapat dilihat di lini masa. Tanpa disadari teman-temannya yang lain sudah mulai menemukan jati dirinya masing-masing, namun bagaimana dengan kita sebagai sang pengamat? Kita hanya menjadi penikmatnya, tim horenya, atau malah menjadi seseorang yang iri terhadapnya, kemudian lama-lama menjadi sebal, menganngap mereka norak dan lain sebagainya. Mengerikan sekali.

Zaman sekarang memang susah melepaskan kebiasaan tersebut. Ibaratnya, Facebook telah menempel erat pada mindset kita masing-masing. Pokoknya benar-benar sulit untuk dilepaskan. Awalnya niat mengerjakan tugas, kemudian di tengah-tengah pengerjaan tugas kita membutuhkan koneksi internet untuk mencari berbagai referensi dan lain sebagainya. Setelah itu, buka browser. Pertama-tama coba-coba untuk membuka Facebook. Niatnya (katanya) hanya sementara saja. Tanpa terasa waktu terus berlalu, eh ternyata daritadi malah asyik facebook-an saja. Yang awalnya memiliki niat untuk mencari referensi tugas, namun niat tersebut tiba-tiba berubah. Tanpa kita sadari, loh! Apakah gara-gara Facebook? Atau gara-gara sang pencipta Facebook, Mark Zuckerberg?

Jawabannya bukan salah dua-duanya, tetapi lebih tepat salah kita. Setuju tidak? Kita yang salah. Kita memang selalu salah. Kitalah tempatnya salah. Oleh karena itu, kita hidup di dunia ini. Kita diturunkan ke bumi untuk dapat belajar dari kesalahan kita sendiri, dan dengan menemukan kebenaran yang ada di luar sana. Masih banyak “orang benar” di luar sana. Kita bisa belajar banyak dari mereka untuk mengurangi segumpal kesalahan yang ada di dalam diri kita. Sebelum terlambat, kita harus bisa kembali ke jalan yang benar.

Saya sendiri juga termasuk orang-orang yang tidak bisa lepas dari media sosial. Hampir setiap hari, ada kalanya saya mengecek Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya untuk mengecek sesuatu yang sedang heboh di dunia maya. Saya juga menggunakannya untuk mendiskusikan tugas, bersama dengan teman-teman lainnya. Tak jarang pula kerjaan saya hanya menekan tombol F5 pada lini masa Facebook. Dari situ mulai terpikir bahwa sia-sia sekali hidup saya yang sedang saya jalani saat ini. Hidup kan cuma sekali, masa saya harus mengorbankan waktu hidup saya untuk hal-hal yang kelihatanna kurang berguna tersebut. Masih banyak hal-hal lain yang lebih bermanfaat yang bisa saya dan kita jalani. Oleh sebab itu juga, saya menulis tulisan ini untuk mengingatkan saya agar tidak lagi tercebur dalam samudra Facebook yang menghanyutkan dan membuat lupa waktu ini.

Nah, sekarang coba tutup mata, buka hati, dan buka pikiran. Renungkanlah sejenak apa yang sudah kita capai sampai saat ini. Kemudian buka mata, dan lakukanlah yang terbaik selama dia masih tersenyum manis di ujung sana. Kalau bisa tanpa Facebook atau mesia sosial lain, lakukanlah. Kalau memang tak bisa, lakukanlah dan berhati-hatilah. Semoga pada nantinya kita semua bisa bertemu di puncak kesuksesan kita masing-masing. Aamiin. Selamat malam.

The following two tabs change content below.

mahisaajy

PMG Ahli Pertama, Bidang Manajemen Database at BMKG
Seorang pemuda luar biasa yang mempunyai hobi menulis, membaca, dan bermusik. Tertarik dengan bidang ilmu komputer untuk memecahkan beberapa persoalan. Co-Founder Triglav ID dan Co-Founder METLIGO. Sejak tahun 2018 bekerja di BMKG di bagian Pusat Database.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *